BAB 1. KONSEP DASAR PENYAKIT
1.1 Anatomi & Fisiologi Payudara
Secara umum, payudara
terdiri atas dua jenis
jaringan yaitu jaringan kelenjar
dan jaringan stromal. Jaringan kelenjar meliputi lobus dan duktus. Sedangkan jaringan stromal meliputi
jaringan lemak dan jaringan ikat. Payudara
terdapat dalam fasia
superfisialis dinding torak ventral yang berkembang menonjol tegak dari
subklavikula sampai dengan costae atau
intercostae kelima sampai keenam (Haryono, 2009)
Puting susu
biasanya terletak pada ruang ICS IV pada wanita nullipara, berwarna merah muda,
coklat muda atau lebih gelap tergantung melanisasi tubuh. Posisi puting biasanya
bervariasi mulai dari mengerucut, tergantung dari nervous, hormonal,
perkembangan dan faktor lain.
gambar 1. payudara bagian duktus dan
lobus
Pada payudara terdapat tiga bagian
utama, yaitu :
1. Korpus (badan), yaitu bagian yang
membesar.
2. Areola, yaitu bagian yang kehitaman
di tengah.
3. Papila atau puting, yaitu bagian
yang menonjol di puncak payudara.
gambar 2. penampang
payudara
Korpus
Alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari alveolus
adalah sel aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos dan pembuluh
darah. Lobulus, yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi 15-20 lobus pada
tiap payudara. ASI di salurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil (duktulus),
kemudian beberapa duktulus bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktis
laktiferus).
Areola
Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar melebar,
akhirnya memusat ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding
alveolus maupun saluran saluran terdapat otot polos yang bila berkontraksi
dapat memompa ASI keluar.
Papila
Bentuk puting ada empat, yaitu bentuk yang normal, pendek/datar, panjang
dan terbenam.
gambar 3. bentuk-bentuk payudara
Kulit puting susu banyak mengandung
pigmen tetapi tidak berambut. Papila dermis banyak mengandung kelenjar sabasea.
Sedangkan kulit pada areola juga banyak mengandung pigmen, tetapi berbeda
dengan kulit puting susu, ia kadang kadang menandung folikel rambut. Kelenjar
sebaseanya biasanya terlihat sebagai nodulus kecil pada permukaan areola dan
disebut kelenjar montgomery.
Kelenjar payudara terletak d bawah
kulit, di atas otot dada. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, yang
beratnya kurang lebih 200 gram, saat hamil 600 gram dan saat menyusui 800 gram.
1.2
Definisi
Kanker
payudara (CA Payudara) adalah
pertumbuhan yang tidak normal dari sel -sel jaringan tubuh yang berubah menjadi
ganas. (Harianto, 2005) Kanker payudara adalah
gangguan dalam pertumbuhan sel normal payudara dimana sel
abnormal timbul dari sel-sel
normal, berkembang biak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan
pembuluh darah (Carpenito, 2000)
Kanker payudara
(CA Payudara) merupakan keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal
dari epitel duktus maupun lobulusnya. Kanker
payudara terjadi karena
pada kondisi dimana
sel telah kehilangan
pengendalian dan mekanisme
normalnya, sehingga mengalami
pertumbuhan yang tidak
normal, cepat dan
tidak terkendali, atau
kanker payudara sering
didefinisikan sebagai suatu penyakit neoplasma yang ganas yang
berasal dari parenchyma.
(Harianto, 2005)
1.3 Epidemiologi
Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak diIndonesia.
Berdasarkan Pathological Based Registration
di Indonesia, KDP menempati
urutan pertama dengan frekuensi relatif sebesar 18,6%. Diperkirakan angka kejadian di Indonesia adalah 12/100.000 wanita. Penyakit ini juga
dapatdiderita pada laki-laki dengan frekuensi sekitar 1%. Di Indonesia, lebih
dari 80%kasus ditemukan berada pada stadium yang lanjut, dimana upaya pengobatan
sulitdilakukan. Oleh karena itu perlu pemahaman tentang upaya pencegahan,
diagnosis dini, pengobatan kuratif maupun paliatif serta upaya rehabilitasi
yang baik, agar pelayanan pada penderita dapat dilakukan secara opyimal
(kemenkes RI, 2017).
1.4 Etiologi
Sampai saat ini,
Penyebab kanker belum diketahui secara spesifik , melainkan dari kombinasi
faktor genetol, hormonal dan faktor lingkungan yang mungkin dapat berperan
dalam lingkungannya. Adapun faktor resiko kanker payudara yakni (Brunner dan Suddarth,
2010) :
a. Gender dan usia lanjut ( > 50 tahun lebih
berpotensi terkena Ca payudara )
b. Riwayat kanker payudara sebelumnya
c. Riwayat keluarga dengan kanker payudara meningkatkan
resiko dua kali sampai lima kali lipat
d. Gaya Hidup (junk food)
e. Mutasi genetic ( BRCA1 atau BRCA 2 )
f. Faktor hormonal : Menarke dini , nuliparitas, pertama
kali melahirkan dalam usia 30 tahun atau lebih, menopause lambat dan terapi
hormone
g. Faktor lain mencakup pajanan radiasi ioniosasi selama
masa remaja dan obesitas masa dewasa awal, asupan alkohol dan diet tinggi
lemak.
1.5
Klasifikasi
Kanker payudara dapat
diklasifikasikan berdasarkan sebagai berikut (Handayani &
Suharmiati.2012) :
1.
STADIUM 0
Kanker
tidak menyebar keluar dari pembuluh / saluran payudara dan kelenjar kelenjar
susu pada payudara
2.
STADIUM 1
Tumor
masih sangat kecil, diameter tumor kurang atau sama dengan 2 Cm dan tidak ada metastasis ke
kelanjar limfe regional
3.
STADIUM 2A
Tidak
ada tanda tanda tumor, tetapi terdapat metastasis kelenjar limfe, diameter
kurang atau sama dengan 2 Cm
namun ada metastasis, diameter tidak lebih dari 5 Cm.
4.
STADIUM 2B
Diameter
lebih dari 2 Cm
tetapi tidak lebih dari 5 Cm,
tidak adanya metastasis jaringan limfe regional.
5.
STADIUM 3A
Diameter
tumor lebih kecil dari 5 Cm
dan terdapat metastasis kelenjar limfe.
6.
STADIUM 3B
Tumor
menyebar ke dinding dada atau menyebabkan pembengkakan bisa juga luka bernanah
pada payudara. Kanker menyebar ke bagian getah bening namun belum ke jaringan
lainnya.
7.
STADIUM 3C
Ukuran
tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis kelenjar limfe mammaria interna
dan metastase kelenjar limfe aksilar.
8.
STADIUM 4
Ukuran bisa
berapa saja, telah menyebar ke lokasi yang jaug yaitu: Paru paru, tulang,
liver, tulang rusuk. (Handayani, 2012)
1.6 Manifestasi Klinis
Tanda
dan gejala kanker payudara menurut American
Cancer Society (2016), yaitu:
1. Terdapat
benjolan baru
2. Bengkak
pada sebagian atau seluruh payudara (bahkan jika tidak ada benjolan yang
diraskan)
3. Iritasi
kulit atau lesung kulit
4. Nyeri
pada payudara atau puting susu
5. Retraksi
puting susu
6. Kemerahan,
bersisik, atau penebalan puting susu atau kulit payudara
7. Keluarnya
cairan dari puting susu (selain ASI)
Kemenkes RI (2017) membagi tanda adanya kanker payudara
menjadi dua, yaitu tanda primer dan tanda sekunder. Berikut tanda primer dan
sekunder kanker payudara:
1. Tanda primer:
a. Densitas (masa jenis) yang meninggi pada
tumor
b. Batas
tumor yang tidak teratur oleh karena adanya proses infiltrasi ke jaringan
sekitarnya atau batas yang tidak jelas (komet sign)
c. Gambaran
translusen di sekitar tumor
d. Gambaran
stelata
e. Adanya
mikroklasifikasi sesuai kriteria egan (klasifikasi dengan lokasi di parenkim
payudara, ukuran kurang dari 0,5 mm, jumlah dari 5, dan bentuk stelata)
f. Ukuran
klinis tumor besar dari radiologis.
2. Tanda
sekunder:
a. Retraksi
kulit atau penebalan kulit
b. Bertambahnya
vaskularisasi
c. Perubahan
posisi puting
d. Kelenjar
getah bening aksila (+)
e. Keadaan
daerah tumor dan jaringan fibroglandular tidak teratur
f. Kepadatan
jaringan sub areolar yang berbentuk utas
1.7 Patofisiologi
Kanker
payudara atau carsinoma payudara berasal dari jaringan epitel
dan paling sering terjadi pada sistem duktal. Mula-mula terjadi hiperplasia sel-sel
dengan perkembangan sel-sel atopik. Sel-sel ini akan berlanjut menjadicarsinoma
insitu dan menginvasi stroma. Carsinoma membutuhkan waktu selama 7 tahun untuk
bertumbuh dari sel tunggal hingga menjadi massa yang cukup besar untuk dapat diraba (kurang lebih diamter 1 cm).
Pada ukuran tersebut, kurang lebih seperempat dari carsinoma payudara telah
bermetastasis dengan penyebaran langsung ke jaringan sekitarnya dan juga
melalui saluran limfe dan alirandarah (Price
dan Wilson, 1995).
1.8 Clinical
Pathway
|
Gangguan
pola napas
|
|
Mendesak jaringan
sekitar
|
|
Mendesak sel syaraf
|
|
Mendesak pembuluh darah
|
|
Mensuplai nutrisi ke jaringan ca
|
|
Menekan jaringan pada payudara
|
|
Nyeri
|
|
Aliran darah terhambat
|
|
Peningkatan konsistensi payudara
|
|
Hipermetabolis ke jaringan
|
|
Suplai nutrisi jaringan lain
|
|
Berat badan turun
|
|
Payudara membengkak
|
|
|
|
Perfusi jaringan terganggu
|
|
Ulkus
|
|
Gangguan
integritas jaringan
|
|
Ukuran payudara abnormal
|
|
Payudara asimetrik
|
|
Ganggauan
citra tubuh
|
|
Hipoksia
|
|
Nekrosis jaringan
|
|
Resiko Infeksi
|
|
Ketidakseimbangan
nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
|
|
Interupsi sel saraf sel
|
|
Kurang pengetahuan
|
|
cemas
|
|
Ekspansi paru menurun
|
|
Infiltrasi pleura parietale
|
|
Bakteri Patogen
|
2
3
4
5
6
1.9
Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan:
1.
Biopsi payudara : memberikan diagnosa definitive terhadap massa
1
Foto thoraks : dilakukan untuk mengkaji adanya metastase
2
CT Scan dan MRI :
untuk mendeteksi penyakit pada payudarakhususnya massa yang lebih
besar, tumor kecil, payudara mengeras dansulit diperiksa dengan mammografi
3
Ultrasonografi : membantu dalam membedakan antara massa padat
4
Mammografi : memperlihatkan struktur internal payudara, dapatuntuk
mendeteksi kanker yang tidak teraba atau tumor yang terjadi padatahap awal
5
FNAB : pemeriksaan langsung pada benjolan
penderita tumor. Syarat dari pemeriksaan ini ialah tumor harus teraba.
1.10
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
medis pada klien dengan kanke payudara terdiri dari:
1.
Mastektomi
Mastektomi adalah
operasi pengangkatan payudara yang terbagi menjadi :
a.
Modified
Radical Mastectomy yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara, jaringan
payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga serta benjolam di
sekitar ketiak
b.
Total
mastectomy yaitu pengangkatan seluruh payudara saja tanpa kelenjar ketiak
c.
Radical
mastectomy yakni operasi pengangkatan sebagian payudara yang mengandung sel
kanker , biasanya disebut lumpectomy
2.
Radiasi
3.
Kemoterapi
4.
Lintasan
Metabolisme
Asam bifosfonat
merupakan senyawa penghambat aktivitas osteoklas dan resorpsi tulanh yang
sering digunakan untuk melawan osteoporosis yang diinduksi oleh overian
suppression, hiperkalsemia dan kelainan metabolism tulang, menunjukkan
fektivitas untuk menurunkan metastasis sel kanker payudara menuju tulang.
Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan osteonekrosis dan penurunan fungsi
ginjal.
1.11 Pencegahan
Pencegahan (primer) adalah usaha
agar tidak terkena kanker payudara . Pencegahan primer berupa mengurangi atau
meniadakan faktor-faktor risiko yang diduga sangat erat kaitannya dengan
peningkatan insiden kanker payudara. Pencegahan primer atau supaya tidak
terjadinya kanker secara sederhana adalah mengetahui faktor -faktor risiko
kanker payudara, seperti yang telah disebutkan di atas, dan berusaha menghindarinya.
Prevensi primer agar tidak terjadi kanker payudara saat ini memang masih sulit, yang bisa dilakukan adalah dengan
meniadakan atau memperhatikan beberapa faktor risiko yang erat kaitannya dengan
peningkatan insiden kanker payudara.
Pencegahan sekunder adalah melakukan skrining
kanker payudara. Skrining kanker payudara adalah pemeriksaan atau usaha untuk
menemukan abnormalitas yang mengarah pada kanker payudara pada seseorang atau
kelompok orang yang tidak mempunyai keluhan. Tujuan dari skrining adalah untuk
menurunkan angka morbiditas akibat kanker payudara dan angka kematian.
Pencegahan sekunder merupakan primadona dalam penanganan kanker secara
keseluruhan. Skrining untuk kanker payudara adalah mendapatkan orang atau
kelompok orang yang terdeteksi mempunyai kelainan/abnormalitas yang mungkin
kanker payudara dan selanjutnya memerlukan diagnosa konfirmasi. Skrining
ditujukan untuk mendapatkan kanker payudara dini sehingga hasil pengobatan
menjadi efektif; dengan demikian akan menurunkan kemungkinan kekambuhan,
menurunkan mortalitas dan memperbaiki kualitas hidup.
BAB
2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.1
Pengkajian Keperawatan
I. Data/identitas klien
Dalam
tahap ini perawat perlu mengetahui nama, umur, alamat, agama, jenis kelamin,
nama ibu, nama ayah, pendidikan, pekerjaan, diagnose medis, dan tanggal pengkajian.
II. Riwayat
Kesehatan
1. Keluhan
Utama
Pada
klien dengan kanker payudara, keluhan utama yang dirasakan dapat berupa nyeri
pada payudara kiri/kanan/bilateral, sesak nafas, pusing, dll.
2. Riwayat
kesehatan sekarang
Keadaan klien
lemah, nyeri pada payudara, sesak napas, dan tampak adanya benjolan pada
payudara atau bahkan terdapat luka.
3. Riwayat kesehatan terdahulu
Klien memiliki
riwayat kanker pada payudara
kiri/kanan/bilateral
4. Riwayat kesehatan keluarga
Adanya anggota
keluarga dengan riwayat kanker payudara atau kanker lainnya.
1. Data
Yang dikaji
a.
Aktifitas/istirahat
Biasanya akan
terdapat perubahan aktifitas (kelemahan dan keletihan) dan istirahat (gangguan
pola tidur) pada klien dengan kanker payudara akibat dari nyeri dan sesak yang
dirasakan.
b.
Integritas Ego
Kemungkinan
adanya faktor stress akibat adanya nyeri dan benjolan yang berlangsung lama,
masalah tentang perubahan dalam penampilan, menyangkal, perasaan tidak berdaya,
putus asa, ketakutan akan pembedahan, tidak mampu beraktifitas, dll.
c.
Makanan / Cairan
Adanya kesulitan
untuk menelan makanan disebabkan oleh sesak akibat nyeri dada, serta
meningkatnya asam lambung yang menyebabkan klien dapat mual bahkan memuntahkan
makanan.
d.
Kenyamanan
klien pada
umumnya akan merasa tidak nyaman dan kelemahan karena nyeri pada bagian dada
yang dirasakan.
e.
Pernafasan
klien pada umumnya
merasakan sesak nafas karena kemungkinan tumor yang ber metastase dan menekan
paru-paru.
f.
Keamanan
umumnya klien membutuhkan pengawasan ketat karena adanya kelemahan dan
keletihan yang membuat klien beresiko untuk jatuh maupun cidera.
g.
Interaksi Sosial
Perasaan Isolasi atau penolakan
Perubahan pola
dalam tanggung jawab
2. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum dan tanda-tanda vital
pasien
Tingkat kesadaran :
Biasanya tingkat kesadaran pasien compos mentis .
Berat badan :
Biasanya berat badan pasien mengalami penurunan karena menurunnya nafsu makan.
Tekanan darah :
Biasanya tekanan darah pasien menurun
Suhu :
Biasanya suhu pasien mengalami peningkatan
Pernafasan :
Biasanya pasien mengalami sesak nafas
Nadi :
Biasanya pasien mengalami peningkatan denyut nadi
a.
Kepala : tidak ada masalah pada bagian kepala klien
dengan kanker payudara
b.
Wajah : Biasanya
tampak ekspresi wajah meringis karena nyeri yang dirasakannya
c.
Mata : Biasanya
terdapat lingkaran hitam pada kelopak mata karena kurang tidur akibat nyeri,
mata simetris kiri dan kanan, konjungtiva pucat, pupil bulat
d.
Hidung
: Biasanya tidak ada tanda-tanda radang.
e.
Mulut
: Biasanya bibir kering, lidah tidak kotor dan biasanya ada caries pada gigi berhubungan
dengan kelemahan tubuh untuk melakukan perawatan diri sehari-hari
f.
Leher
: tidak ada lesi maupun benjolan
g.
Jantung
Inspeksi : biasanya ictus cordis
tidak terlihat.
Palpasi : biasanya ictus
cordis teraba 2 jari.
Perkusi : biasanya bunyi redup
auskultasi : biasanya irama jantung cepat
h.
Perut/Abdomen
Inspeksi : biasanya perut nya datar
Auskultasi : biasanya terjadi penurunan bising usus.
Palpasi :, tidak ada masa
Perkusi : biasanya tidak
kembung
i.
Sistem
integrumen
Biasanya terjadi perubahan pada kelembapan atau turgor kulit
jelek karena keringat dingin dimalam hari
j.
Ekstermitas
Biasanya ektremitas mengalami kelemahan otot.
3.
Pemeriksaan Penunjang
a.
Biopsi payudara : memberikan diagnosa definitive terhadap massa
b.
Foto thoraks : dilakukan untuk mengkaji adanya metastase
c.
CT Scan dan MRI : untuk mendeteksi
penyakit pada payudarakhususnya massa yang lebih besar, tumor kecil,
payudara mengeras dansulit diperiksa dengan mammografi
d.
Ultrasonografi : membantu dalam membedakan antara massa padat
e.
Mammografi : memperlihatkan struktur internal payudara, dapatuntuk
mendeteksi kanker yang tidak teraba atau tumor yang terjadi padatahap awal.
2 Pola
seksual-seksualitas
Tahap
ini mengkaji selama sakit terdapat gangguan atau tidak yang berhubungan dengan
reproduksi.
4.
Pola mekanisme koping
Pasien membutuhkan dukungan
keluarga dalam melakukan pengobatan dan perawatan
3 Pola
nilai dan kepercayaan
Pasien selalu optimis dan berdoa
agar penyakit yang diderita dapat sembuh dengan cepat.
2.2 Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan
pola napas berhubungan dengan hiperventilasi
2. Nyeri
kronis berhubungan dengan infiltrasi tumor
3. Kerusakan
integristas jaringan berhubungan dengan terganggunya perfusi jaringan
4. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan drainase
limpatik necrose jaringan.
5. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kehilangan payudara
dan atau perubahan gambaran payudara.
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan hipermetabolis ke jaringan
7. Ansietas berhubungan dengan tindakan pembedahan, luka pada
payudara, nyeri
2.3
Intervensi
|
No.
|
Diagnosa
Keperawatan
|
NOC
|
NIC
|
Rasional
|
|
1.
|
Ketidakefektifan pola napas (00032) berhubungan dengan
hiperventilasi
|
Tujuan:
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, klien menunjukkan pola napas
efektif.
Kriteria Hasil:
1. RR dalam rentang normal (16-20x/menit)
2. Tidak dispnea, bradipnea, dan takipnea
3. Tidak ada suara napas tambahan
4. Tidak menggunakan pernapasan cuping hidung
5. Tidak menggunakan otot bantu pernapasan
|
1.
Observasi
tanda-tanda vital
2.
Kaji frekuensi,
kedalaman pernapasan, dan penggunaan otot bantu pernapasan
3.
Auskultasi
suara napas
4.
Atur posisi
klien semi fowler
5.
Lakukan
penghisapan lendir pada jalan napas (suction)
6.
Jelaskan
kepada klien dan keluarga terkait tujuan tindakan.
7.
Kolaborasi
dengan tim tenaga kesehatan terkait pemberian oksigen tambahan
8.
Kolaborasi
dengan tim tenaga kesehatan terkait pemberian humidifikasi tambahan
(nebulizer)
9.
Kolaborasi
dengan tim tenaga kesehatan terkait tindakan fisioterapi dada
|
1.
Mengetahui RR
(RR normal 16-20x/menit).
2.
Identifikasi
adanya dispnea/bradipnea/takipnea.
3.
Identifikasi
adanya suara napas tambahan seperti ronki dan mengi yang menandakan adanya
obstruksi jalan napas/kegagalan pernapasan.
4.
Ekspansi paru
(mengurangi tekanan pada paru dan memudahkan pernapasan.
5.
Mengurangi
adanya sputum.
6.
Klien dan
keluarga terpapar informasi terkait tindakan yang akan dilakukan.
7.
Memaksimalkan
bernapas dan menurunkan kerja napas.
8.
Memberikan
kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret.
9.
Memudahkan
upaya pernapasan dalam dan meningkatkan drainase sekret dari paru ke bronkus.
|
|
2.
|
Nyeri kronis (00133) berhubungan dengan infiltrasi tumor
|
Tujuan:
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, nyeri klien dapat berkurang.
Kriteria Hasil:
1. TTV normal
2. Skala nyeri berkurang
3. Tidak tampak meringis kesakitan
|
1.
Kaji nyeri
(PQRST)
2.
Observasi TTV
3.
Atur posisi
klien yang nyaman
4.
Ajarkan
teknik relaksasi (napas dalam)
5.
Ajarkan
terapi dzikir/murottal al quran/musik klasik
6.
Kolaborasi
dengan tim tenaga kesehatan terkait pemberian analgesik
|
1.
Mengetahui
sumber dan skala nyeri klien.
2.
Peningkatan
frekuensi jantung atau TD menunjukkan bahwa klien mengalami nyeri.
3.
Posisi yang
nyaman dapat membuat klien lebih rileks dan mengurangi nyeri.
4.
Napas dalam
dapat membuat klien lebih rileks dan mengurangi nyeri.
5.
Dzikir dapat
menjadi salah satu frasa fokus (kata-kata yang menjadi titik fokus perhatian)
dalam proses penyembuhan diri klien dari kecemasan, ketakutan bahkan dari
keluhan fisik seperti nyeri (Budiyanto, 2015).
6.
Obat
ini dapat digunakan untuk mengurangi nyeri.
|
|
3.
|
Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari kebutuhan tubuh
(00002)
|
Setelah di
lakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam masalah nutrisi teratasi.
Kriteria Hasil :
a. TTV normal
b. BB tidak mengalami penurunan
c. bebas dari tanda mal nutrisi.
|
1. Kaji abdomen,
catat adanya/karakter bising usus, distensi abdomen dan keluhan mual.
Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
2. Berikan
perawatan oral
Bantu pasien
dalam pemilihan makanan/cairan yang memenuhi kebutuhan nutrisi dan pembatasan
bila diet dimulai
3. Monitor
turgor kulit
4. Catat
tanda peningkatan haus dan berkemih atau perubahan mental dan ketajaman
visual
|
1. mengetahui
kedaan abdomen dan memastikan pasien makan makanan yang mengandung banyak serat
2. membantu
pemilihan makanan sesuai kebutuhan klien
3. mengetahui
kedaan turgor kulit
4. mengetahui peningkatan haus dan berkemih
atau perubahan mental dan ketajaman visual
|
Discharge
Planning
Pemberian informasi
kepada klien dan keluarga tentang:
1.
Terapi
nonbedah yang dapat dilakukan : Penyinaran. Kemoterapi, terapi hormone dan
endokrin
2.
Pemeliharaan
kulit/diri dengan benar (menggunakan sabun ringan dengan penggosokan minimal ,
hindari sabun berparfum atau berdeodoran, gunakan lotion untuk menjaga kulit
tetap lembab, gunakan sabun aveno jika terjadi pruritus (gatal) dan hindari
pakaian yang ketat
3.
Hindari
mencuci rambut setiap hari dan gunakan shampoo ringan untuk menghindari
kerontokan
4.
Biarkan
rambut mengering secara alami dan jangan menyikat rambut
5.
Konsultasikan
dengan dokter pemakaian terapi hormonal
6.
Makan
makanan bergizi sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh
7.
Istirahat
cukup
8.
Jika
menginginkan kehamilan , konsultasikan dengan dokter karena kebanyakan diminta
menunggu selama 2 tahun
9.
Periksa
payudara adanya benjolan yang mungkin semakin membesar
DAFTAR PUSTAKA
American Cancer Society. 2016. Breast Cancer Signs and Symptoms. https://www.cancer.org/cancer/breast-cancer/about/breast-cancer-signs-and-symptoms.html [Diakses pada 10 Januari 2018].
Brunner &Suddarth. 2010. Keperawatan Medikal Bedah. EGC. Jakarta.
Daniell Jane Charette (1995), Ancologi
Nursing Care Plus, Elpaso Texas, USA Alih Bahasa Imade Kariasa, Jakarta, EGC
Handayani,
Lestari & Suharmiati.2012.Menaklukkan
Kanker Serviks dan Kanker Payudara dengan 3 Terapi Alami.Jakarta: Agro
Media Pustaka.
Harianto, Rina, M, dan Hery, S.2005.Risiko penggunaan pil kontrasepsi kombinasi terhadap
kejadian kanker payudara pada
reseptor KB di Perjan
RS Dr. Cipto Mangunkusumo.Jakarta: Majalah
Ilmu Kefarmasian, Vol. 2, No.1,
hh. 84-99.
Kementrian Kesehatan RI. 2017. Panduan Penatalaksanaan Kanker Payudara. http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKPayudara.pdf [diakses pada 10 Januari 2018].
Price, SA dan Wilson, LM. 1995. Patofisiologi: konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta:EGC