Thursday, February 8, 2018

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN KANKER PAYUDARA

BAB 1. KONSEP DASAR PENYAKIT


1.1  Anatomi & Fisiologi Payudara

Secara  umum,  payudara  terdiri  atas  dua jenis  jaringan yaitu  jaringan  kelenjar   dan jaringan stromal. Jaringan kelenjar meliputi lobus dan  duktus. Sedangkan jaringan stromal meliputi jaringan lemak dan jaringan ikat. Payudara  terdapat  dalam fasia superfisialis dinding torak ventral yang berkembang menonjol tegak dari subklavikula sampai dengan  costae atau intercostae kelima  sampai  keenam (Haryono, 2009)
Puting susu biasanya terletak pada ruang ICS IV pada wanita nullipara, berwarna merah muda, coklat muda atau lebih gelap tergantung melanisasi tubuh. Posisi puting biasanya bervariasi mulai dari mengerucut, tergantung dari nervous, hormonal, perkembangan dan faktor lain.
gambar 1. payudara bagian duktus dan lobus
Pada payudara terdapat tiga bagian utama, yaitu :
1.     Korpus (badan), yaitu bagian yang membesar.
2.     Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah.
3.     Papila atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara.
gambar 2. penampang payudara
Korpus
Alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari alveolus adalah sel aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos dan pembuluh darah. Lobulus, yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara. ASI di salurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil (duktulus), kemudian beberapa duktulus bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktis laktiferus).
Areola
Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar melebar, akhirnya memusat ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran saluran terdapat otot polos yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar.
Papila
Bentuk puting ada empat, yaitu bentuk yang normal, pendek/datar, panjang dan terbenam.
 
gambar 3. bentuk-bentuk payudara
Kulit puting susu banyak mengandung pigmen tetapi tidak berambut. Papila dermis banyak mengandung kelenjar sabasea. Sedangkan kulit pada areola juga banyak mengandung pigmen, tetapi berbeda dengan kulit puting susu, ia kadang kadang menandung folikel rambut. Kelenjar sebaseanya biasanya terlihat sebagai nodulus kecil pada permukaan areola dan disebut kelenjar montgomery.
Kelenjar payudara terletak d bawah kulit, di atas otot dada. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, yang beratnya kurang lebih 200 gram, saat hamil 600 gram dan saat menyusui 800 gram.

1.2  Definisi

Kanker payudara (CA Payudara) adalah pertumbuhan yang tidak normal dari sel -sel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. (Harianto, 2005) Kanker payudara adalah  gangguan dalam pertumbuhan sel normal payudara dimana   sel   abnormal   timbul dari sel-sel normal, berkembang   biak   dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah (Carpenito, 2000)
Kanker payudara (CA Payudara) merupakan keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya. Kanker payudara  terjadi   karena   pada   kondisi   dimana   sel   telah   kehilangan   pengendalian   dan  mekanisme  normalnya,  sehingga  mengalami  pertumbuhan  yang  tidak  normal,  cepat  dan  tidak  terkendali,  atau  kanker  payudara  sering  didefinisikan  sebagai  suatu penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma. (Harianto, 2005)

1.3  Epidemiologi

Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak diIndonesia. Berdasarkan Pathological Based Registration di Indonesia, KDP menempati urutan pertama dengan frekuensi relatif sebesar 18,6%. Diperkirakan angka kejadian di Indonesia adalah 12/100.000 wanita. Penyakit ini juga dapatdiderita pada laki-laki dengan frekuensi sekitar 1%. Di Indonesia, lebih dari 80%kasus ditemukan berada pada stadium yang lanjut, dimana upaya pengobatan sulitdilakukan. Oleh karena itu perlu pemahaman tentang upaya pencegahan, diagnosis dini, pengobatan kuratif maupun paliatif serta upaya rehabilitasi yang baik, agar pelayanan pada penderita dapat dilakukan secara opyimal (kemenkes RI, 2017).

1.4  Etiologi

Sampai saat ini, Penyebab kanker belum diketahui secara spesifik , melainkan dari kombinasi faktor genetol, hormonal dan faktor lingkungan yang mungkin dapat berperan dalam lingkungannya. Adapun faktor resiko kanker payudara yakni (Brunner dan Suddarth, 2010) :
a.      Gender dan usia lanjut ( > 50 tahun lebih berpotensi terkena Ca payudara )
b.     Riwayat kanker payudara sebelumnya
c.      Riwayat keluarga dengan kanker payudara meningkatkan resiko dua kali sampai lima kali lipat
d.     Gaya Hidup (junk food)
e.      Mutasi genetic ( BRCA1 atau BRCA 2 )
f.      Faktor hormonal : Menarke dini , nuliparitas, pertama kali melahirkan dalam usia 30 tahun atau lebih, menopause lambat dan terapi hormone
g.     Faktor lain mencakup pajanan radiasi ioniosasi selama masa remaja dan obesitas masa dewasa awal, asupan alkohol dan diet tinggi lemak.

1.5  Klasifikasi

Kanker payudara dapat diklasifikasikan berdasarkan sebagai berikut (Handayani & Suharmiati.2012) :
1.     STADIUM 0
Kanker tidak menyebar keluar dari pembuluh / saluran payudara dan kelenjar kelenjar susu pada payudara
2.     STADIUM 1
Tumor masih sangat kecil, diameter tumor kurang atau sama dengan 2 Cm dan tidak ada metastasis ke kelanjar limfe regional
3.     STADIUM 2A
Tidak ada tanda tanda tumor, tetapi terdapat metastasis kelenjar limfe, diameter kurang atau sama dengan 2 Cm namun ada metastasis, diameter tidak lebih dari 5 Cm.
4.     STADIUM 2B
Diameter lebih dari 2 Cm tetapi tidak lebih dari 5 Cm, tidak adanya metastasis jaringan limfe regional.
5.     STADIUM 3A
Diameter tumor lebih kecil dari 5 Cm dan terdapat metastasis kelenjar limfe.
6.     STADIUM 3B
Tumor menyebar ke dinding dada atau menyebabkan pembengkakan bisa juga luka bernanah pada payudara. Kanker menyebar ke bagian getah bening namun belum ke jaringan lainnya.
7.     STADIUM 3C
Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis kelenjar limfe mammaria interna dan metastase kelenjar limfe aksilar.
8.     STADIUM 4
Ukuran bisa berapa saja, telah menyebar ke lokasi yang jaug yaitu: Paru paru, tulang, liver, tulang rusuk. (Handayani, 2012)

1.6  Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala kanker payudara menurut American Cancer Society (2016), yaitu:
1.     Terdapat benjolan baru
2.     Bengkak pada sebagian atau seluruh payudara (bahkan jika tidak ada benjolan yang diraskan)
3.     Iritasi kulit atau lesung kulit
4.     Nyeri pada payudara atau puting susu
5.     Retraksi puting susu
6.     Kemerahan, bersisik, atau penebalan puting susu atau kulit payudara
7.     Keluarnya cairan dari puting susu (selain ASI)
Kemenkes RI (2017) membagi tanda adanya kanker payudara menjadi dua, yaitu tanda primer dan tanda sekunder. Berikut tanda primer dan sekunder kanker payudara:
1.      Tanda primer:
a.      Densitas (masa jenis) yang meninggi pada tumor
b.     Batas tumor yang tidak teratur oleh karena adanya proses infiltrasi ke jaringan sekitarnya atau batas yang tidak jelas (komet sign)
c.      Gambaran translusen di sekitar tumor
d.     Gambaran stelata
e.      Adanya mikroklasifikasi sesuai kriteria egan (klasifikasi dengan lokasi di parenkim payudara, ukuran kurang dari 0,5 mm, jumlah dari 5, dan bentuk stelata)
f.      Ukuran klinis tumor besar dari radiologis.
2.     Tanda sekunder:
a.      Retraksi kulit atau penebalan kulit
b.     Bertambahnya vaskularisasi
c.      Perubahan posisi puting
d.     Kelenjar getah bening aksila (+)
e.      Keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglandular tidak teratur
f.      Kepadatan jaringan sub areolar yang berbentuk utas

1.7 Patofisiologi

Kanker payudara atau carsinoma payudara berasal dari jaringan epitel dan paling sering terjadi pada sistem duktal. Mula-mula terjadi hiperplasia sel-sel dengan perkembangan sel-sel atopik. Sel-sel ini akan berlanjut menjadicarsinoma insitu dan menginvasi stroma. Carsinoma membutuhkan waktu selama 7 tahun untuk bertumbuh dari sel tunggal hingga menjadi massa yang cukup besar untuk  dapat diraba (kurang lebih diamter 1 cm). Pada ukuran tersebut, kurang lebih seperempat dari carsinoma payudara telah bermetastasis dengan penyebaran langsung ke jaringan sekitarnya dan juga melalui saluran limfe dan alirandarah (Price dan Wilson, 1995).

1.8  Clinical Pathway
CA PAYUDARA
Gangguan pola napas
Mendesak jaringan sekitar
Mendesak sel syaraf
Mendesak pembuluh darah
Mensuplai nutrisi ke jaringan ca
Menekan jaringan pada payudara
Nyeri
Aliran darah terhambat
Peningkatan konsistensi payudara
Hipermetabolis ke jaringan
Suplai nutrisi jaringan lain
Berat badan turun
Payudara membengkak
Massa tumor mendesak ke jaringan luar
Perfusi jaringan terganggu
Ulkus
Gangguan integritas jaringan
Ukuran payudara abnormal
Payudara asimetrik
Ganggauan citra tubuh
Hipoksia
Nekrosis jaringan
 Resiko Infeksi
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
Interupsi sel  saraf sel
Kurang pengetahuan
cemas
Ekspansi paru menurun
Infiltrasi pleura parietale

Bakteri Patogen
 


2        

3        

4        

5        
6        








1.9   Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan:
1.     Biopsi payudara : memberikan diagnosa definitive terhadap massa
1       Foto thoraks : dilakukan untuk mengkaji adanya metastase
2       CT Scan dan MRI : untuk mendeteksi penyakit pada payudarakhususnya massa yang lebih besar, tumor kecil, payudara mengeras dansulit diperiksa dengan mammografi
3       Ultrasonografi : membantu dalam membedakan antara massa padat
4       Mammografi : memperlihatkan struktur internal payudara, dapatuntuk mendeteksi kanker yang tidak teraba atau tumor yang terjadi padatahap awal
5       FNAB : pemeriksaan langsung pada benjolan penderita tumor. Syarat dari pemeriksaan ini ialah tumor harus teraba.

1.10         Penatalaksanaan

       Penatalaksanaan medis pada klien dengan kanke payudara terdiri dari:
1.     Mastektomi
Mastektomi adalah operasi pengangkatan payudara yang terbagi menjadi :
a.      Modified Radical Mastectomy yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga serta benjolam di sekitar ketiak
b.     Total mastectomy yaitu pengangkatan seluruh payudara saja tanpa kelenjar ketiak
c.      Radical mastectomy yakni operasi pengangkatan sebagian payudara yang mengandung sel kanker , biasanya disebut lumpectomy
2.     Radiasi
3.     Kemoterapi
4.     Lintasan Metabolisme
Asam bifosfonat merupakan senyawa penghambat aktivitas osteoklas dan resorpsi tulanh yang sering digunakan untuk melawan osteoporosis yang diinduksi oleh overian suppression, hiperkalsemia dan kelainan metabolism tulang, menunjukkan fektivitas untuk menurunkan metastasis sel kanker payudara menuju tulang. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan osteonekrosis dan penurunan fungsi ginjal.

1.11    Pencegahan
Pencegahan (primer) adalah usaha agar tidak terkena kanker payudara . Pencegahan primer berupa mengurangi atau meniadakan faktor-faktor risiko yang diduga sangat erat kaitannya dengan peningkatan insiden kanker payudara. Pencegahan primer atau supaya tidak terjadinya kanker secara sederhana adalah mengetahui faktor -faktor risiko kanker payudara, seperti yang telah disebutkan di atas, dan berusaha menghindarinya. Prevensi primer agar tidak terjadi kanker payudara saat ini memang masih sulit, yang bisa dilakukan adalah dengan meniadakan atau memperhatikan beberapa faktor risiko yang erat kaitannya dengan peningkatan insiden kanker payudara.
  Pencegahan sekunder adalah melakukan skrining kanker payudara. Skrining kanker payudara adalah pemeriksaan atau usaha untuk menemukan abnormalitas yang mengarah pada kanker payudara pada seseorang atau kelompok orang yang tidak mempunyai keluhan. Tujuan dari skrining adalah untuk menurunkan angka morbiditas akibat kanker payudara dan angka kematian. Pencegahan sekunder merupakan primadona dalam penanganan kanker secara keseluruhan. Skrining untuk kanker payudara adalah mendapatkan orang atau kelompok orang yang terdeteksi mempunyai kelainan/abnormalitas yang mungkin kanker payudara dan selanjutnya memerlukan diagnosa konfirmasi. Skrining ditujukan untuk mendapatkan kanker payudara dini sehingga hasil pengobatan menjadi efektif; dengan demikian akan menurunkan kemungkinan kekambuhan, menurunkan mortalitas dan memperbaiki kualitas hidup.



BAB 2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Pengkajian Keperawatan

I.    Data/identitas klien
Dalam tahap ini perawat perlu mengetahui nama, umur, alamat, agama, jenis kelamin, nama ibu, nama ayah, pendidikan, pekerjaan, diagnose medis, dan tanggal pengkajian.
II.  Riwayat Kesehatan
1.     Keluhan Utama
Pada klien dengan kanker payudara, keluhan utama yang dirasakan dapat berupa nyeri pada payudara kiri/kanan/bilateral, sesak nafas, pusing, dll.
2.     Riwayat kesehatan sekarang
Keadaan klien lemah, nyeri pada payudara, sesak napas, dan tampak adanya benjolan pada payudara atau bahkan terdapat luka.
3.     Riwayat kesehatan terdahulu
Klien memiliki riwayat kanker pada payudara kiri/kanan/bilateral
4.     Riwayat kesehatan keluarga
Adanya anggota keluarga dengan riwayat kanker payudara atau kanker lainnya.

1.     Data Yang dikaji
a.      Aktifitas/istirahat
Biasanya akan terdapat perubahan aktifitas (kelemahan dan keletihan) dan istirahat (gangguan pola tidur) pada klien dengan kanker payudara akibat dari nyeri dan sesak yang dirasakan.
b.     Integritas Ego
Kemungkinan adanya faktor stress akibat adanya nyeri dan benjolan yang berlangsung lama, masalah tentang perubahan dalam penampilan, menyangkal, perasaan tidak berdaya, putus asa, ketakutan akan pembedahan, tidak mampu beraktifitas, dll.
c.      Makanan / Cairan
Adanya kesulitan untuk menelan makanan disebabkan oleh sesak akibat nyeri dada, serta meningkatnya asam lambung yang menyebabkan klien dapat mual bahkan memuntahkan makanan.
d.     Kenyamanan
klien pada umumnya akan merasa tidak nyaman dan kelemahan karena nyeri pada bagian dada yang dirasakan.
e.      Pernafasan
klien pada umumnya merasakan sesak nafas karena kemungkinan tumor yang ber metastase dan menekan paru-paru.
f.      Keamanan
umumnya klien membutuhkan pengawasan ketat karena adanya kelemahan dan keletihan yang membuat klien beresiko untuk jatuh maupun cidera.
g.     Interaksi Sosial
Perasaan Isolasi atau penolakan
Perubahan pola dalam tanggung jawab
2.     Pemeriksaan fisik
a.      Keadaan umum dan tanda-tanda vital pasien
Tingkat kesadaran  : Biasanya tingkat kesadaran pasien compos mentis .
Berat badan         : Biasanya berat badan pasien mengalami penurunan karena menurunnya nafsu makan.
Tekanan darah     :  Biasanya tekanan darah pasien menurun
Suhu                    : Biasanya suhu pasien mengalami peningkatan
Pernafasan           : Biasanya pasien mengalami sesak nafas
Nadi                     : Biasanya pasien mengalami peningkatan denyut nadi
a.        Kepala :  tidak ada masalah pada bagian kepala klien dengan kanker payudara
b.     Wajah : Biasanya tampak ekspresi wajah meringis karena nyeri yang dirasakannya
c.     Mata : Biasanya terdapat lingkaran hitam pada kelopak mata karena kurang tidur akibat nyeri, mata simetris kiri dan kanan, konjungtiva pucat, pupil bulat
d.     Hidung : Biasanya tidak ada tanda-tanda radang.
e.      Mulut : Biasanya bibir kering, lidah tidak kotor dan biasanya ada caries pada gigi berhubungan dengan kelemahan tubuh untuk melakukan perawatan diri sehari-hari
f.      Leher : tidak ada lesi maupun benjolan
g.     Jantung
Inspeksi     : biasanya ictus cordis tidak terlihat.
Palpasi       : biasanya ictus cordis teraba 2 jari.
Perkusi      : biasanya bunyi redup
auskultasi  : biasanya irama jantung cepat
h.     Perut/Abdomen
Inspeksi    : biasanya perut nya datar
Auskultasi : biasanya terjadi penurunan bising usus.
Palpasi      :, tidak ada masa
Perkusi      : biasanya tidak kembung
i.       Sistem integrumen
Biasanya terjadi perubahan pada kelembapan atau turgor kulit jelek karena keringat dingin dimalam hari
j.       Ekstermitas
Biasanya ektremitas mengalami kelemahan otot.

3.     Pemeriksaan Penunjang
a.      Biopsi payudara : memberikan diagnosa definitive terhadap massa
b.     Foto thoraks : dilakukan untuk mengkaji adanya metastase
c.      CT Scan dan MRI : untuk mendeteksi penyakit pada payudarakhususnya massa yang lebih besar, tumor kecil, payudara mengeras dansulit diperiksa dengan mammografi 
d.     Ultrasonografi : membantu dalam membedakan antara massa padat 
e.      Mammografi : memperlihatkan struktur internal payudara, dapatuntuk mendeteksi kanker yang tidak teraba atau tumor yang terjadi padatahap awal.

2       Pola seksual-seksualitas
Tahap ini mengkaji selama sakit terdapat gangguan atau tidak yang berhubungan dengan reproduksi.
4.       Pola mekanisme koping
Pasien membutuhkan dukungan keluarga dalam melakukan pengobatan dan perawatan
3       Pola nilai dan kepercayaan
Pasien selalu optimis dan berdoa agar penyakit yang diderita dapat sembuh dengan cepat.

2.2  Diagnosa Keperawatan

1.      Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan hiperventilasi
2.     Nyeri kronis berhubungan dengan infiltrasi tumor
3.     Kerusakan integristas jaringan berhubungan dengan terganggunya perfusi jaringan
4.     Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan drainase limpatik necrose jaringan.
5.     Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kehilangan payudara dan atau perubahan gambaran payudara.
6.     Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hipermetabolis ke jaringan
7.     Ansietas berhubungan dengan tindakan pembedahan, luka pada payudara, nyeri



2.3            Intervensi
No.
Diagnosa Keperawatan
NOC
NIC
Rasional
1.
Ketidakefektifan pola napas (00032) berhubungan dengan hiperventilasi











Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, klien menunjukkan pola napas efektif.
Kriteria Hasil:
1.  RR dalam rentang normal (16-20x/menit)
2.  Tidak dispnea, bradipnea, dan takipnea
3.  Tidak ada suara napas tambahan
4.  Tidak menggunakan pernapasan cuping hidung
5.  Tidak menggunakan otot bantu pernapasan
1.   Observasi tanda-tanda vital
2.   Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan, dan penggunaan otot bantu pernapasan
3.   Auskultasi suara napas
4.   Atur posisi klien semi fowler
5.   Lakukan penghisapan lendir pada jalan napas (suction)
6.   Jelaskan kepada klien dan keluarga terkait tujuan tindakan.
7.   Kolaborasi dengan tim tenaga kesehatan terkait pemberian oksigen tambahan
8.   Kolaborasi dengan tim tenaga kesehatan terkait pemberian humidifikasi tambahan (nebulizer)
9.   Kolaborasi dengan tim tenaga kesehatan terkait tindakan fisioterapi dada



1.      Mengetahui RR (RR normal 16-20x/menit).
2.      Identifikasi adanya dispnea/bradipnea/takipnea.
3.      Identifikasi adanya suara napas tambahan seperti ronki dan mengi yang menandakan adanya obstruksi jalan napas/kegagalan pernapasan.
4.      Ekspansi paru (mengurangi tekanan pada paru dan memudahkan pernapasan.
5.      Mengurangi adanya sputum.
6.      Klien dan keluarga terpapar informasi terkait tindakan yang akan dilakukan.
7.      Memaksimalkan bernapas dan menurunkan kerja napas.
8.      Memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret.
9.      Memudahkan upaya pernapasan dalam dan meningkatkan drainase sekret dari paru ke bronkus.

2.
Nyeri kronis (00133) berhubungan dengan infiltrasi tumor

Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, nyeri klien dapat berkurang.
Kriteria Hasil:
1.  TTV normal
2.  Skala nyeri berkurang
3.  Tidak tampak meringis kesakitan
1.   Kaji nyeri (PQRST)
2.   Observasi TTV
3.   Atur posisi klien yang nyaman
4.   Ajarkan teknik relaksasi (napas dalam)
5.   Ajarkan terapi dzikir/murottal al quran/musik klasik
6.   Kolaborasi dengan tim tenaga kesehatan terkait pemberian analgesik
1.     Mengetahui sumber dan skala nyeri klien.
2.     Peningkatan frekuensi jantung atau TD menunjukkan bahwa klien mengalami nyeri.
3.     Posisi yang nyaman dapat membuat klien lebih rileks dan mengurangi nyeri.
4.     Napas dalam dapat membuat klien lebih rileks dan mengurangi nyeri.
5.     Dzikir dapat menjadi salah satu frasa fokus (kata-kata yang menjadi titik fokus perhatian) dalam proses penyembuhan diri klien dari kecemasan, ketakutan bahkan dari keluhan fisik seperti nyeri (Budiyanto, 2015).
6.     Obat ini dapat digunakan untuk mengurangi nyeri.
3.
Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari kebutuhan tubuh (00002)
Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam masalah nutrisi teratasi.
Kriteria Hasil :
a.         TTV normal
b.         BB tidak mengalami penurunan
c.         bebas dari tanda mal nutrisi.
1. Kaji abdomen, catat adanya/karakter bising usus, distensi abdomen dan keluhan mual. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
2. Berikan perawatan oral
Bantu pasien dalam pemilihan makanan/cairan yang memenuhi kebutuhan nutrisi dan pembatasan bila diet dimulai
3. Monitor turgor kulit
4. Catat tanda peningkatan haus dan berkemih atau perubahan mental dan ketajaman visual
1. mengetahui kedaan abdomen dan memastikan pasien makan makanan yang mengandung banyak serat
2. membantu pemilihan makanan sesuai kebutuhan klien
3. mengetahui kedaan turgor kulit
4.  mengetahui peningkatan haus dan berkemih atau perubahan mental dan ketajaman visual



Discharge Planning
Pemberian informasi kepada klien dan keluarga tentang:
1.     Terapi nonbedah yang dapat dilakukan : Penyinaran. Kemoterapi, terapi hormone dan endokrin
2.     Pemeliharaan kulit/diri dengan benar (menggunakan sabun ringan dengan penggosokan minimal , hindari sabun berparfum atau berdeodoran, gunakan lotion untuk menjaga kulit tetap lembab, gunakan sabun aveno jika terjadi pruritus (gatal) dan hindari pakaian yang ketat
3.     Hindari mencuci rambut setiap hari dan gunakan shampoo ringan untuk menghindari kerontokan
4.     Biarkan rambut mengering secara alami dan jangan menyikat rambut
5.     Konsultasikan dengan dokter pemakaian terapi hormonal
6.     Makan makanan bergizi sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh
7.     Istirahat cukup
8.     Jika menginginkan kehamilan , konsultasikan dengan dokter karena kebanyakan diminta menunggu selama 2 tahun
9.     Periksa payudara adanya benjolan yang mungkin semakin membesar








DAFTAR PUSTAKA


American Cancer Society. 2016. Breast Cancer Signs and Symptoms. https://www.cancer.org/cancer/breast-cancer/about/breast-cancer-signs-and-symptoms.html [Diakses pada 10 Januari 2018].
Brunner &Suddarth. 2010. Keperawatan Medikal Bedah. EGC. Jakarta.
Daniell Jane Charette (1995), Ancologi Nursing Care Plus, Elpaso Texas, USA Alih Bahasa Imade Kariasa, Jakarta, EGC
Handayani, Lestari & Suharmiati.2012.Menaklukkan Kanker Serviks dan Kanker Payudara dengan 3 Terapi Alami.Jakarta: Agro Media Pustaka.
Harianto, Rina, M, dan  Hery, S.2005.Risiko penggunaan pil kontrasepsi kombinasi  terhadap  kejadian kanker  payudara  pada  reseptor  KB di   Perjan   RS   Dr.   Cipto Mangunkusumo.Jakarta:  Majalah   Ilmu  Kefarmasian, Vol. 2, No.1, hh. 84-99.
Kementrian Kesehatan RI. 2017. Panduan Penatalaksanaan Kanker Payudara. http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKPayudara.pdf [diakses pada 10 Januari 2018].

Price, SA dan Wilson, LM. 1995. Patofisiologi: konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta:EGC