BAB
1. KONSEP PENYAKIT
1.1
Anatomi
Fisiologi Paru
1.1.1
Anatomi Paru
Saluran
pernafasan terdiri dari rongga hidung, rongga mulut, faring, laring, trakea,
dan paru. Paru-paru terletak pada rongga dada,
berbentuk kerucut yang ujungnya berada di atas tulang iga pertama dan dasarnya
berada pada diafragma. Paru terbagi menjadi dua yaitu, paru kanan dan paru
kiri. Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus sedangkan paru-paru kiri mempunyai
dua lobus. Kelima lobus tersebut dapat terlihat dengan jelas. Paru-paru
dibungkus oleh selaput tipis yaitu pleura. Pleura terbagi menjadi pleura
viseralis dan pleura pariental. Pleura viseralis yaitu selaput yang langsung
membungkus paru, sedangkan pleura parietal yaitu selaput yang menempel pada
rongga dada. Diantara kedua pleura terdapat rongga yang disebut kavum pleura (Price, 2005).
Sistem pernafasan dapat dibagi ke
dalam sitem pernafasan bagian atas dan pernafasan bagian bawah. Pernafasan
bagian atas meliputi, hidung, rongga hidung, sinus paranasal, dan faring.
Sedangkan pernafasan bagian bawah meliputi, laring, trakea, bronkus, bronkiolus
dan alveolus paru. Pergerakan
dari dalam ke luar paru terdiri dari dua proses, yaitu inspirasi dan ekspirasi.
Inspirasi adalah pergerakan dari atmosfer ke dalam paru, sedangkan ekspirasi
adalah pergerakan dari dalam paru ke atmosfer.
1.1.2 Fisiologi
Paru
Fungsi
utama paru-paru yaitu untuk pertukaran gas antara darah dan atmosfer.
Pertukaran gas tersebut bertujuan untuk menyediakan oksigen bagi jaringan dan
mengeluarkan karbon dioksida. Kebutuhan oksigen dan karbon dioksida terus
berubah sesuai dengan tingkat aktivitas dan metabolisme seseorang, tapi
pernafasan harus tetap dapat memelihara kandungan oksigen dan karbon dioksida
tersebut.
Udara masuk ke paru-paru melalui sistem berupa
pipa yang menyempit (bronchi dan bronkiolus) yang bercabang di kedua belah
paru-paru utama (trachea). Pipa tersebut berakhir di gelembung-gelembung
paru-paru (alveoli) yang merupakan kantong udara terakhir dimana oksigen dan
karbondioksida dipindahkan dari tempat dimana darah mengalir. Ada lebih dari
300 juta alveoli di dalam paru-paru manusia bersifat elastis. Ruang udara
tersebut dipelihara dalam keadaan terbuka oleh bahan kimia surfaktan yang dapat
menetralkan kecenderungan alveoli untuk mengempis (Price, 2005).
1.2
Definisi
Penyakit
Tuberkulosis paru merupakan penyakit
infeksi yang menyerang parenkim paru yang di sebabkan oleh mycobacterium
tuberculosis (somantri, 2007). Tuberculosis paru adalah infeksi pada paru yang
disebabkan oleh Mycobacterium
Tuberculosis yaitu suatu bakteri yang tahan asam (Suriadi, 2010).
Tuberkulosis dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi seperti anemia, peningkatan sedimentasi
eritrosit, penurunan jumlah serum albumin, hiponatremia, gangguan fungsi hepar,
leukositosis, dan hipokalsemia. (Nasution, 2015).
1.3
Epidemiologi
World Health
Organization (WHO) menyatakan bahwa TB merupakan masalah kesehatan masyarakat
global, ketika itu terjadi sekitar 7-8 juta kasus TB dengan 1,3-1,6 juta
kematian setiap tahunnya.Laporan dari seluruh dunia diperkirakan masih terdapat
sekitar 9,5 juta kasus TB baru, dan 0,5 juta diantaranya mengalami kematian
akibat TB pada tahun 2009. Indonesia berada dalam lima besar negara dengan
beban TB tertinggi di dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar
566.000 atau 244 per 100.000 penduduk dan estimasi angka insidensi berjumlah
528.000 kasus baru per tahun (228 per 100.000 penduduk). Jumlah kematian akibat
TB melebihi 90.000 kematian per tahunnya.Penyakit TB paru dilaporkan lebih
sering menyerang laki-laki daripada perempuan. Laporan serupa juga terjadi di
sebagian besar negara-negara di dunia. Tercatat ada 1,4 juta kasus TB paru BTA
positif pada lakilaki dan hanya 775.000 pada perempuan di tahun 2004. Rasio
perempuan terhadap laki-laki pada kasus.
TB global adalah 0,47:0,67 Penderita TB di Indonesia sebanyak 231.370
jiwa pada tahun 2009, dengan 5 provinsi terbanyak adalah Jawa Barat, Jawa
Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Kejadian TB di Jawa
Timur mencapai 40.185, jumlah terbanyak kedua setelah Jawa Barat, dan 2.474 diantaranya
termasuk TB yang gampang menular. Sedangkan TB di Jember manjadi nomor dua
setelah Kota Surabaya sebanyak 4.754, Jember 3.128, Sidoarjo 2.292, Kabupaten
Malang 1.932 dan Kabupaten Pasuruan sebanyak 1.809. (DinKes JaTim, 2015).
1.4
Etiologi
Penyebab dari penyakit tuberculosis
paru adalah terinfeksinya paru oleh micobacterium tuberculosis yang merupakan
kuman berbentuk batang dengan ukuran sampai 4 mycron dan bersifat aerob. Sifat
ini yang menunjukkan kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan
oksigennya, sehingga paru-paru merupakan tempat prediksi penyakit tuberculosis.
Kuman ini juga terdiri dari asal lemak (lipid) yang membuat kuman lebih tahan
terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. Penyebaran
mycobacterium tuberculosis yaitu melalui droplet nukles, kemudian dihirup oleh
manusia dan menginfeksi (Depkes RI, 2002) .
1.5
Patofisiologi
Menurut (Somantri,Irman,
2008) ,
infeksi diawali karena seseorang menghirup basil Mycobacterium tuberculosis.
Bakteri menyebar melalui jalan napas menuju alveoli lalu berkembang biak dan
terlihat bertumpuk. Perkembangan Mycobacterium tuberculosis juga dapat
menjangkau sampai ke area lain dari paru (lobus atas). Basil juga menyebar melalui
sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lain (ginjal, tulang dan korteks
serebri) dan area lain dari paru (lobus atas). Selanjutnya sistem kekebalan
tubuh memberikan respons dengan melakukan reaksi inflamasi. Neutrofil dan
makrofag melakukan aksi fagositosis (menelan bakteri), sementara limfosit
spesifik-tuberkulosis menghancurkan (melisiskan) basil dan jaringan normal.
Infeksi awal biasanya timbul dalam waktu 2-10 minggu setelah terpapar
bakteri.Interaksi antara Mycobacterium tuberculosis dan sistem kekebalan tubuh
pada masa awal infeksi membentuk sebuah massa jaringan baru yang disebut
granuloma. Granuloma terdiri atas gumpalan basil hidup dan mati yang
dikelilingi oleh makrofag seperti dinding. Granuloma selanjutnya berubah bentuk
menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian tengah dari massa tersebut disebut ghon
tubercle. Materi yang terdiri atas makrofag dan bakteri yang menjadi nekrotik
yang selanjutnya membentuk materi yang berbentuk seperti keju (necrotizing
caseosa).Hal ini akan menjadi klasifikasi dan akhirnya membentuk jaringan
kolagen, kemudian bakteri menjadi nonaktif.
Menurut (Widagdo, 2011) , setelah infeksi
awaljika respons sistem imun tidak adekuat maka penyakit akan menjadi lebih
parah. Penyakit yang kian parah dapat timbul akibat infeksi ulang atau bakteri
yang sebelumnya tidak aktif kembali menjadi aktif, Pada kasus ini, ghon
tubercle mengalami ulserasi sehingga menghasilkan necrotizing caseosa di dalam
bronkus.Tuberkel yang ulserasi selanjutnya menjadi sembuh dan membentuk
jaringan parut.Paru-paru yang terinfeksi kemudian meradang, mengakibatkan
timbulnya bronkopneumonia, membentuk tuberkel, dan seterusnya. Pneumonia
seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya. Proses ini berjalan terus dan basil
terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Makrofag yang mengadakan
infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu membentuk sel tuberkel
epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit (membutuhkan 10-20 hari). Daerah yang
mengalami nekrosis dan jaringan granulasi yang dikelilingi sel epiteloid dan
fibroblas akan memberikan respons berbeda kemudian pada akhirnya membentuk
suatu kapsul yang dikelilingi oleh tuberkel.
1.6
Klasifikasi
Menurut
American Thoracic Society klasifikasi Tuberculosis paru meliputi:
a.
Kategori 0 : Tidak pernah terpajan, tidak terinfeksi, dan riwayat kontak
negative serta tes tuberculin negative
b.
Kategori 1: Terpajan tuberculosis, tapi terbukti ada infeksi. Disini
riwayat kontak posistif, dan tes tuberculin negative
c.
Kategori 2: Terinfeksi tuberculosis, tetapi tidak sakit. Tes tuberculin
positif, radiologis dan sputum negative
d.
Kategori 3: Terinfeksi tuberculosis dan sakit (Nurarif, A & Hardhi
K., 2015).
1.7
Manifestasi Klinis
Menurut (Donna L. Wong…[et.al],
2008)
tanda dan gejala tuberkulosis adalah :
a.
Demam
Umumnya
subfebris, kadang-kadang 40-410C, keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya
tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk.
Biasanya terjadi demam persisten.
b.
Malaise (rasa kurang enak badan)
c.
Anoreksia (nafsu makan tidak ada)
d.
Batuk
Terjadi
karena adanya iritasi pada bronkus. Keadaan setelah timbul peradangan menjadi
produktif (menghasilkan sputum atau dahak). Keadaan yang lanjut berupa batuk
darah haematoemesis karena terdapat pembuluh darah yang cepat. Kebanyakan batuk
darah pada TBC terjadi pada dinding bronkus. (berkembang secara perlahan selama
berminggu – minggu sampai berbulan – bulan)
e.
Sesak nafas dan nyeri
dada
f.
Bunyi napas hilang dan
ronkhi kasar, pekak pada saat perkusi
g.
Manifestasi gejala yang
umum : pucat, anemia, kelemahan, dan penurunan berat badan.
1.8
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Penunjang yang dapat dilakukan yaitu :
1.
Pemeriksaan Dahak Mikroskopis
Pemeriksaan
dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan pengobatan dan
menentukan potensi penularan
2.
Pemeriksaan Bactec
Dasar
teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC ini adalah metode radiometrik.
Mycobacterium tuberculosa memetabolisme asam lemak yang kemudian menghasilkan
CO2 yang akan dideteksi growth indexnya oleh mesin ini. Sistem ini dapat
menjadi salah satu alternatif pemeriksaan biakan secara cepat untuk membantu
menegakkan diagnosis dan melakukan uji kepekaan.Bentuk lain teknik ini adalah
dengan memakai Mycobacteria Growth Indicator Tube (MGIT)
3.
Pemeriksaan Darah
Hasil
pemeriksaan darah rutin kurang menunjukan indikator yang spe sifik untuk Tb
paru. Laju Endap Darah ( LED ) jam pertama dan jam kedua dibutuhkan. Demikian
pula kadar limfosit dapat menggambarkan daya tahan tubuh pende rita. LED sering
meningkat pada proses aktif, tetapi LED yang normal juga tidak me nyingkirkan
diagnosa TBC
4.
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan
standar adalah foto toraks PA. Pemeriksaan lain atas indikasi ialah foto
lateral, top lordotik, oblik, CT-Scan. Pada kasus dimana pada pemeriksaan
sputum SPS positif, foto toraks tidak diperlukan lagi. Pada beberapa kasus
dengan hapusan positif perlu dilakukan foto toraks bila :
a.
Curiga adanya
komplikasi (misal : efusi pleura, pneumotoraks)
b.
Hemoptisis berulang
atau berat
c.
Didapatkan hanya 1
spesimen BTA +
Pemeriksaan foto toraks memberi gambaran
bermacam-macam bentuk. Gambaran radiologi yang dicurigai lesi Tb paru aktif :
a.
Bayangan
berawan/nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas dan segmen superior
lobus bawah paru.
b.
Kaviti terutama lebih
dari satu, dikelilingi bayangan opak berawan atau nodular.
c.
Bayangan bercak milier
d.
Efusi Pleura, Gambaran
radiologi yang dicrigai Tb paru inaktif
e.
Fibrotik, terutama pada
segmen apical dan atau posterior lobus atas dan atau segmen superior lobus
bawah
f.
Kalsifikasi, didapatkannya pengapuran pada jaringan paru. Gambaran ini
dapat terjadi akibat adanya pembentukan jaringan granuloma dari penyembuhan
suatu infeksi pada paru-paru
1.9
Penatalaksanaan
a.
Penatalaksanaan
Farmakologis
Tuberkulosis
paru terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan 4
atau 7 bulan.
Pengobatan
dapat diobati terutama dengan agen kemoterapi ( agen antituberkulosis ) selama
periode 6 sampai 12 bulan.
Lima
medikasi garis depan yang digunakan adalah Isoniasid ( INH ), Rifampisin ( RIF
), Streptomisin ( SM ), Etambutol ( EMB ), dan Pirazinamid ( PZA ).
Kapremiosin,
kanamisin, etionamid, natrium para-aminosilat, amikasin, dan siklisin merupakan
obat – obat baris kedua (Smeltzer, Suzzane C, 2001) .
·
Penatalaksanaan pada
pasien Tuberkulosis Multi drug resistance
Tuberkulosis paru dengan resistensi
dicurigai kuat jika kultur basil tahan asam (BTA) tetap positif setelah terapi
3 bulan atau kultur kembali positif setelah terjadi konversi negatif. Directly
observed therapy (DOTS) merupakan sebuah strategi baru yang dipromosikan oleh
World Health Organization (WHO) untuk meningkatkan keberhasilan terapi TB dan
mencegah terjadinya resistensi. DOTS adalah nama suatu strategi yang
dilaksanakan di pelayanan kesehatan dasar di dunia untuk mendeteksi dan
menyembuhkan tuberculosis Kunci utama keberhasilan DOTS adalah keyakinan bahwa
penderita TB meminum obatnya sesuai dengan yang telah ditetapkan dan tidak
lalai atau putus berobat.
b.
Penatalaksanaan
Non Farmakologi
Terapi non farmakologi dapat
dilakukan dengan cara:
a.
Sering berjemur dibawah
sinar matahari pagi (pukul 6-8 pagi).
b.
Memperbanyak
istirahat (bedrest).
c.
Diet sehat, dianjurkan
mengkonsumsi banyak lemak dan vitamin A untuk membentuk jaringan lemak baru dan
meningkatkan sistem imun.
d.
Menjaga
sanitasi/kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal.
e.
Menjaga sirkulasi udara
di dalam rumah agar selalu berganti dengan udara yang baru.
f.
Berolahraga, seperti
jalan santai di pagi hari.
1.10
Pathway
BAB
2. PROSES KEPERAWATAN
I.
Pengkajian
a.
Identitas klien
Meliputi
nama,, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa, agama, status
perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosa medik.
b.
Riwayat
Kesehatan
1)
Kesehatan
sekarang
a)
Keadaan
pernapasan < napas pendek >
b)
Nyeri
dada
c)
Batuk
dan
d)
Sputum
2)
Kesehatan
dahulu:
Jenis gangguan kesehatan yang baru saja dialami, cedera dan pembedahan
3)
Kesehatan
keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita empisema, asma, alergi dan TB
II.
Status
Perkembangan, misalnya:
1)
Ibu
yang melahirkan bayi prematur perlu ditanyakan apakah sewaktu hamil mempunyai
masalah-masalah risiko dan apakah usia kehamilan cukup
2)
Pada
usia lanjut perlu ditanya apakah ada perubahan pola pernapasan, cepat lelah
sewaktu naik tangga, sulit bernapas sewaktu berbaring atau apakah bila flu
sembuhnya lama
1.
Pola Aktifitas/Istirahat
1)
Gejala:
a)
Kelelahan
umum dan kelemahan
b)
Napas
pendek karena kerja
c)
Kesulitan
tidur pada malam atau demam malam hari, meggigil dan atau berkeringat, mimpi
buruk
2)
Tanda:
a)
Takikardia,
takipnea/dyspnea pada kerja
b)
Kelelahan
otot, nyeri dan sesak (tahap lanjut)
2.
Pola
Integritas Ego
1)
Gejala:
a)
Adanya/faktor
stress lama
b)
Masalah
keuangan, rumah
c)
Perasaan
tidak berdaya/tidak ada harapan
d)
Populasi
budaya/etnik
2)
Tanda:
a)
Menyangkal
(khususnya tahap dini)
b)
Ansietas,
ketakutan, mudah terangsang
3.
Makanan/Cairan
1)
Gejala:
a)
Kehilangan
nafsu makan
b)
Tidak
dapat mencerna
c)
Penurunan
BB
2)
Tanda:
a) Turgor kulit buruk, kering/bersisik
b) Kehilangan otot/hilang lemak subkutan
4.
Nyeri/Kenyamanan
1)
Tanda:
Nyeri dada meningkat karena batuk berulang
2)
Gejala:
Perilaku distraksi, gelisah
5.
Pernapasan
1)
Gejala:
a)
Batuk
produktif atau tidak produktif
b)
Napas
pendek
c)
Riwayat
TB/terpajan pada individu terinfeksi
2)
Tanda:
a)
Peningkatan
frekuensi pernapasan (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleura)
b)
Perkusi
pekak dan penurunan fremitus. Bunyi nafas menurun/tidak ada secara
bilateral/unilateral. Bunyi nafas tubuler dan atau bisikan pectoral di atas
lesi luas. Krekels tercatat di atas apek paru selama inspirasi cepat setelah
batuk pendek (krekels pusttussic)
c)
Karakteristik
sputum adalah hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah
d)
Deviasi
trakea (penyebaran bronkogenik)
6.
Interaksi
Sosial
1)
Gejala:
a)
Perasaan
isolasi/penolakan karena penyakit menular
b)
Perubahan
pola biasa dalam tanggung jawab/perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan
peran
III.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan
yang mungkin muncul
pada pasien TB Paru
menurut teori diagnosa keperawatan NANDA NIC NOC adalah sebagai
berikiut:
a.
Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas b.d penumpukan sputum pada jalan napas
b.
Ketidakefektifan pola
nafas berhubungan dengan Hiperventilasi.
c.
Ketidakseimbangan
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia
d.
Intoleransi aktifitas
b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen dan keletihan.
e.
Mual b.d peningkatan asam dan akumulasi sekret
berlebih di lambung
f.
Hipertermi berhubungan
dengan Infeksi
g.
Gangguan pola tidur
berhubungan dengan sesak nafas
h.
Defisit Perawatan Diri
berhubungan dengan kelemahan akibat Intoleransi Aktivitas.
IV.
Intervensi
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan dan Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
1.
|
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
|
NOC:
Respiratory status : Ventilation
Respiratory status : Airway patency
Aspiration Control
Setelah diakukan perawatan selama 3x24 pasien menunjukkan keefektifan jalan nafas dibuktikan dengan kriteria
hasil :
1.
1. Mampu mengeluarkan sputum, bernafas
dengan mudah.
2.
2. Menunjukkan jalan
nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas = reguler,
frekuensi pernafasan = 16-24 x/menit, tidak ada suara nafas abnormal)
3.
Mampu mengidentifikasikan
dan mencegah faktor yang penyebab.
4.
Saturasi O2
= 95-100%.
|
NIC:
1.
Ajarkan batuk efetif
2.
Auskultasi suara
nafas, catat adanya suara tambahan
3.
Anjurkan pasien untuk
istirahat dan napas dalam
4.
Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
5.
Keluarkan sekret
dengan batuk atau suction
6.
Berikan bronkodilator
7.
Kolaborasikan pemberian antibiotic
8.
Jelaskan pada pasien
dan keluarga tentang penggunaan peralatan : O2, Suction,
Inhalasi.
|
2.
|
Ketidakefektifan pola nafas
|
NOC:
Respiratory status : Ventilation
Respiratory status : Airway patency
Vital sign Status
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien menunjukkan
keefektifan pola nafas, dibuktikan dengan kriteria hasil:
1.
Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu
(mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dg mudah, tidakada pursed lips)
2.
Menunjukkan jalan
nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi
pernafasan dalam rentang 16-24 x/menit, tidak ada suara nafas abnormal)
3.
Tanda Tanda vital
dalam rentang normal (tekanan darah: sistolik = 90-120 mmHg, diastole = 60-80
mmHg, HR = 60-100 x/menit, RR = 16-24 x/menit).
|
NIC:
1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
2.
Keluarkan sekret
dengan batuk atau suction
3.
Auskultasi suara
nafas, catat adanya suara tambahan
4.
Berikan bronkodilator
5.
Pertahankan jalan
nafas yang paten
6.
Observasi adanya tanda
tanda hipoventilasi
7.
Monitor adanya
kecemasan pasien terhadap oksigenasi
8.
Monitor vital
sign
9.
Informasikan pada
pasien dan keluarga tentang teknik relaksasi untuk memperbaiki pola nafas.
10.
Ajarkan bagaimana
batuk efektif
11.
Monitor pola nafas
|
3.
|
Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b.d anoreksia
|
NOC:
Nutritional Status :
food andFluid Intake
Nutritional Status :
nutrient Intake
Weight control
Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam Ketidak seimbangan nutrisi lebih teratasi dengan kriteria hasil:
1.
Mengerti faktor yang
meningkatkan berat badan
2.
Memodifikasi diet
dalam waktu yang lama untuk mengontrol berat badan
3.
Peningkatan berat
badan 1-2 kg atau gr
4.
Menggunakan energi
untuk aktivitas sehari hari
|
NIC:
Weight Management
1. Diskusikan bersama pasien mengenai hubungan antara intake makanan,
latihan, peningkatan BB dan penurunan BB
2. Diskusikan bersama pasien menangani kondisi medis yang dapat mempengaruhi
BB
3. Diskusikan bersama pasien mengenai kebiasaan, gaya hidup dan faktor
herediter yang dapat mempengaruhi BB
4. Diskusikan bersama pasien mengenai risiko yang berhubungan dengan BB
berlebih dan penurunan BB
5. Dorong pasien untuk merubah kebiasaan makan
6. Perkirakan BB badan ideal pasien
Nutrition Management
1. Jaga intake / asupan yang akurat dan catat output.
2. Monitor status gizi.
3. Dukung psien dan keluarga untuk membantu memberikan makanan dengan baik.
4. Tentukan status gizi pasien dan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan
gizi.
5. Instruksikan pasien mengenai kebutuhan nutrisi.
6. Kaji adanya alergi makanan
7. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien
8. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
9. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah
konstipasi
Weight reduction
Assistance
1. Fasilitasi keinginan pasien untuk
meningkatkan BB
2.
Beri pujian/reward saat pasien berhasil mencapai tujuan
3.
Ajarkan pemilihan makanan
|
V.Evaluasi
1. Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas
S: Klien mengatakan tidak ada hambatan saat bernafas dan
sesak berkurang
O: Sesak berkurang, tidak ada batuk, suara mengi
berkurang, TTV dalam batas normal
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi
2. Ketidakefektifan
pola nafas
S: Klien mengatakan nafas semakin normal
O: tidak menggunakan otot bantu nafas, tidak ada
sianosis, TTV dalam batas normal
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi
3. Ketidakseimbangan
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia
S: Klien mengatakan sudah enak makan
O: pemasukan nutrisi bertambah, klien mampu makan dengan
mandiri, BB bertambah
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi
IV.
Discharge
Planning
1. Identitas
Diisi identitas pasien,
tanggal MRS dan KRS, nomor RM, alamat, tanggal lahir, penanggung jawab pasien.
2.
Diagnosa utama dan diagnosa sekunder
Diisi dagnosa
utama yang ditegakkan TBC dan diagnosa sekunder pada saat MRS
3.
Data saat pasien pulang
Diisi data
terakhir sebelum pasien KRS
4.
Berat badan MRS dan KRS
Diisi berat badan
saat MRS dan saat terakhir sebelum KRS
5.
Tanda-tanda vital
Diisi tanda-tanda
vital pasien sebelum krs
6.
Diet saat dirawat
Diet saat dirawat
di rumah sakit untuk acuan konsumsi makanan dirumah
7.
Obat selama di rumah sakit dan dirumah
Diisi catatan obat
yang telah diberikan dan yang akan diberikan kepada pasien saat krs
8.
Hasil laboratorium
Diisi hasil lab
saat mrs dan hasil lab terakhir sebelum krs
9.
Penyuluhan kesehatan
a. Pelajari penyebab dan penularan dari
TB dengan anemia serta pencegahan saat diluar rumah
b. Pahami tentang kegunaan batuk yang
efektif dan mengapa terdapat penumpukan secret disaluran pernafasan
c. Napas dalam dan perlahan saat duduk
setegak mungkin
d. Lakukan
pernapasan diafragma : tahan napas selama 3-5 detik kemudian secara
perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut
e.
Selalu menjaga kebersihan mulut dan pelajari
cara yang baik saat batuk dan setelah batuk juga cara pengontrolan batuk
f.
Menggunkan
masker
g.
Jalankan terapi obat dengan teratur dan jangan
sampai putus tanpa instruksi.
h.
Berhenti merokok dan minum alcohol.
i.
Olahraga secara teratur, makan makanan yang
bergizi dan istirahat cukup.
10.
Kontrol
Diisi jadwal kontrol pasien setelah
krs
DAFTAR
PUSTAKA
Depkes RI. (2002).
Pedoman pemberantasan penyalit saluran pernafasan akut. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Depkes. R.I. (2008). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.
Cetakan Kedua. Jakarta: Bakti Husada
Donna L.
Wong…[et.al]. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong. Alih bahasa :
Agus Sutarna, Neti. Juniarti, H.Y. Kuncoro. Editor edisi bahasa Indonesia : Egi
Komara Yudha….[et al.]. Edisi 6. Jakarta: EGC.
Nurarif,A & Hardhi Kusuma. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawaqtan Berdasarkan
Diagnose Medis Dan Nanda NIC NOC Edisi Revisi Jilid 3 .Jogjakarta:
Mediaction Publishing
Price, Sylvia
Anderson. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses- Proses Penyakit.
Ed.6. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzzane
C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth. Edisi
8. Jakarta: EGC.
Somantri,Irman.
(2008). Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan
Gangguan Sistem pernapasan / Irman Somantri. Jakarta: Salemba Medika.
Wahid, A &
Suprapto, I. (2012). Pengantar dokumentasi proses keperawatan. Jakarta:
Trans Info Media.
No comments:
Post a Comment