Wednesday, February 7, 2018

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN TUBERKULOSIS PARU

BAB 1. KONSEP PENYAKIT

1.1        Anatomi Fisiologi Paru
1.1.1   Anatomi Paru
          Saluran pernafasan terdiri dari rongga hidung, rongga mulut, faring, laring, trakea, dan paru. Paru-paru terletak pada rongga dada, berbentuk kerucut yang ujungnya berada di atas tulang iga pertama dan dasarnya berada pada diafragma. Paru terbagi menjadi dua yaitu, paru kanan dan paru kiri. Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus sedangkan paru-paru kiri mempunyai dua lobus. Kelima lobus tersebut dapat terlihat dengan jelas. Paru-paru dibungkus oleh selaput tipis yaitu pleura. Pleura terbagi menjadi pleura viseralis dan pleura pariental. Pleura viseralis yaitu selaput yang langsung membungkus paru, sedangkan pleura parietal yaitu selaput yang menempel pada rongga dada. Diantara kedua pleura terdapat rongga yang disebut kavum pleura (Price, 2005).
          Sistem pernafasan dapat dibagi ke dalam sitem pernafasan bagian atas dan pernafasan bagian bawah. Pernafasan bagian atas meliputi, hidung, rongga hidung, sinus paranasal, dan faring. Sedangkan pernafasan bagian bawah meliputi, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan alveolus paru. Pergerakan dari dalam ke luar paru terdiri dari dua proses, yaitu inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi adalah pergerakan dari atmosfer ke dalam paru, sedangkan ekspirasi adalah pergerakan dari dalam paru ke atmosfer.

1.1.2   Fisiologi Paru
       Fungsi utama paru-paru yaitu untuk pertukaran gas antara darah dan atmosfer. Pertukaran gas tersebut bertujuan untuk menyediakan oksigen bagi jaringan dan mengeluarkan karbon dioksida. Kebutuhan oksigen dan karbon dioksida terus berubah sesuai dengan tingkat aktivitas dan metabolisme seseorang, tapi pernafasan harus tetap dapat memelihara kandungan oksigen dan karbon dioksida tersebut.
 Udara masuk ke paru-paru melalui sistem berupa pipa yang menyempit (bronchi dan bronkiolus) yang bercabang di kedua belah paru-paru utama (trachea). Pipa tersebut berakhir di gelembung-gelembung paru-paru (alveoli) yang merupakan kantong udara terakhir dimana oksigen dan karbondioksida dipindahkan dari tempat dimana darah mengalir. Ada lebih dari 300 juta alveoli di dalam paru-paru manusia bersifat elastis. Ruang udara tersebut dipelihara dalam keadaan terbuka oleh bahan kimia surfaktan yang dapat menetralkan kecenderungan alveoli untuk mengempis (Price, 2005).
1.2        Definisi Penyakit
Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru yang di sebabkan oleh mycobacterium tuberculosis (somantri, 2007). Tuberculosis paru adalah infeksi pada paru yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis yaitu suatu bakteri yang tahan asam (Suriadi, 2010). Tuberkulosis dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi  seperti anemia, peningkatan sedimentasi eritrosit, penurunan jumlah serum albumin, hiponatremia, gangguan fungsi hepar, leukositosis, dan hipokalsemia. (Nasution, 2015).

1.3        Epidemiologi
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa TB merupakan masalah kesehatan masyarakat global, ketika itu terjadi sekitar 7-8 juta kasus TB dengan 1,3-1,6 juta kematian setiap tahunnya.Laporan dari seluruh dunia diperkirakan masih terdapat sekitar 9,5 juta kasus TB baru, dan 0,5 juta diantaranya mengalami kematian akibat TB pada tahun 2009. Indonesia berada dalam lima besar negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 566.000 atau 244 per 100.000 penduduk dan estimasi angka insidensi berjumlah 528.000 kasus baru per tahun (228 per 100.000 penduduk). Jumlah kematian akibat TB melebihi 90.000 kematian per tahunnya.Penyakit TB paru dilaporkan lebih sering menyerang laki-laki daripada perempuan. Laporan serupa juga terjadi di sebagian besar negara-negara di dunia. Tercatat ada 1,4 juta kasus TB paru BTA positif pada lakilaki dan hanya 775.000 pada perempuan di tahun 2004. Rasio perempuan terhadap laki-laki pada kasus.  TB global adalah 0,47:0,67 Penderita TB di Indonesia sebanyak 231.370 jiwa pada tahun 2009, dengan 5 provinsi terbanyak adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Kejadian TB di Jawa Timur mencapai 40.185, jumlah terbanyak kedua setelah Jawa Barat, dan 2.474 diantaranya termasuk TB yang gampang menular. Sedangkan TB di Jember manjadi nomor dua setelah Kota Surabaya sebanyak 4.754, Jember 3.128, Sidoarjo 2.292, Kabupaten Malang 1.932 dan Kabupaten Pasuruan sebanyak 1.809. (DinKes JaTim, 2015).

1.4        Etiologi
Penyebab dari penyakit tuberculosis paru adalah terinfeksinya paru oleh micobacterium tuberculosis yang merupakan kuman berbentuk batang dengan ukuran sampai 4 mycron dan bersifat aerob. Sifat ini yang menunjukkan kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya, sehingga paru-paru merupakan tempat prediksi penyakit tuberculosis. Kuman ini juga terdiri dari asal lemak (lipid) yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. Penyebaran mycobacterium tuberculosis yaitu melalui droplet nukles, kemudian dihirup oleh manusia dan menginfeksi (Depkes RI, 2002).
1.5        Patofisiologi
Menurut (Somantri,Irman, 2008), infeksi diawali karena seseorang menghirup basil Mycobacterium tuberculosis. Bakteri menyebar melalui jalan napas menuju alveoli lalu berkembang biak dan terlihat bertumpuk. Perkembangan Mycobacterium tuberculosis juga dapat menjangkau sampai ke area lain dari paru (lobus atas). Basil juga menyebar melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lain (ginjal, tulang dan korteks serebri) dan area lain dari paru (lobus atas). Selanjutnya sistem kekebalan tubuh memberikan respons dengan melakukan reaksi inflamasi. Neutrofil dan makrofag melakukan aksi fagositosis (menelan bakteri), sementara limfosit spesifik-tuberkulosis menghancurkan (melisiskan) basil dan jaringan normal. Infeksi awal biasanya timbul dalam waktu 2-10 minggu setelah terpapar bakteri.Interaksi antara Mycobacterium tuberculosis dan sistem kekebalan tubuh pada masa awal infeksi membentuk sebuah massa jaringan baru yang disebut granuloma. Granuloma terdiri atas gumpalan basil hidup dan mati yang dikelilingi oleh makrofag seperti dinding. Granuloma selanjutnya berubah bentuk menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian tengah dari massa tersebut disebut ghon tubercle. Materi yang terdiri atas makrofag dan bakteri yang menjadi nekrotik yang selanjutnya membentuk materi yang berbentuk seperti keju (necrotizing caseosa).Hal ini akan menjadi klasifikasi dan akhirnya membentuk jaringan kolagen, kemudian bakteri menjadi nonaktif.
Menurut (Widagdo, 2011), setelah infeksi awaljika respons sistem imun tidak adekuat maka penyakit akan menjadi lebih parah. Penyakit yang kian parah dapat timbul akibat infeksi ulang atau bakteri yang sebelumnya tidak aktif kembali menjadi aktif, Pada kasus ini, ghon tubercle mengalami ulserasi sehingga menghasilkan necrotizing caseosa di dalam bronkus.Tuberkel yang ulserasi selanjutnya menjadi sembuh dan membentuk jaringan parut.Paru-paru yang terinfeksi kemudian meradang, mengakibatkan timbulnya bronkopneumonia, membentuk tuberkel, dan seterusnya. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya. Proses ini berjalan terus dan basil terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit (membutuhkan 10-20 hari). Daerah yang mengalami nekrosis dan jaringan granulasi yang dikelilingi sel epiteloid dan fibroblas akan memberikan respons berbeda kemudian pada akhirnya membentuk suatu kapsul yang dikelilingi oleh tuberkel.
1.6        Klasifikasi
Menurut American Thoracic Society klasifikasi Tuberculosis paru meliputi:
a.            Kategori 0 : Tidak pernah terpajan, tidak terinfeksi, dan riwayat kontak negative serta tes tuberculin negative
b.            Kategori 1: Terpajan tuberculosis, tapi terbukti ada infeksi. Disini riwayat kontak posistif, dan tes tuberculin negative
c.            Kategori 2: Terinfeksi tuberculosis, tetapi tidak sakit. Tes tuberculin positif, radiologis dan sputum negative
d.            Kategori 3: Terinfeksi tuberculosis dan sakit (Nurarif, A & Hardhi K., 2015). 

1.7        Manifestasi Klinis
Menurut (Donna L. Wong…[et.al], 2008) tanda dan gejala tuberkulosis adalah :
a.            Demam
Umumnya subfebris, kadang-kadang 40-410C, keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk. Biasanya terjadi demam persisten. 
b.            Malaise (rasa kurang enak badan)
c.            Anoreksia (nafsu makan tidak ada)
d.            Batuk
Terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Keadaan setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum atau dahak). Keadaan yang lanjut berupa batuk darah haematoemesis karena terdapat pembuluh darah yang cepat. Kebanyakan batuk darah pada TBC terjadi pada dinding bronkus. (berkembang secara perlahan selama berminggu – minggu sampai berbulan – bulan)
e.            Sesak nafas dan nyeri dada
f.             Bunyi napas hilang dan ronkhi kasar, pekak pada saat perkusi
g.            Manifestasi gejala yang umum : pucat, anemia, kelemahan, dan penurunan berat badan.

1.8        Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Penunjang yang dapat dilakukan yaitu :
1.            Pemeriksaan Dahak Mikroskopis
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan
2.            Pemeriksaan Bactec
Dasar teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC ini adalah metode radiometrik. Mycobacterium tuberculosa memetabolisme asam lemak yang kemudian menghasilkan CO2 yang akan dideteksi growth indexnya oleh mesin ini. Sistem ini dapat menjadi salah satu alternatif pemeriksaan biakan secara cepat untuk membantu menegakkan diagnosis dan melakukan uji kepekaan.Bentuk lain teknik ini adalah dengan memakai Mycobacteria Growth Indicator Tube (MGIT)
3.            Pemeriksaan Darah
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukan indikator yang spe sifik untuk Tb paru. Laju Endap Darah ( LED ) jam pertama dan jam kedua dibutuhkan. Demikian pula kadar limfosit dapat menggambarkan daya tahan tubuh pende rita. LED sering meningkat pada proses aktif, tetapi LED yang normal juga tidak me nyingkirkan diagnosa TBC
4.            Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan standar adalah foto toraks PA. Pemeriksaan lain atas indikasi ialah foto lateral, top lordotik, oblik, CT-Scan. Pada kasus dimana pada pemeriksaan sputum SPS positif, foto toraks tidak diperlukan lagi. Pada beberapa kasus dengan hapusan positif perlu dilakukan foto toraks bila :
a.            Curiga adanya komplikasi (misal : efusi pleura, pneumotoraks)
b.            Hemoptisis berulang atau berat
c.            Didapatkan hanya 1 spesimen BTA +
Pemeriksaan foto toraks memberi gambaran bermacam-macam bentuk. Gambaran radiologi yang dicurigai lesi Tb paru aktif :
a.            Bayangan berawan/nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas dan segmen superior lobus bawah paru.
b.            Kaviti terutama lebih dari satu, dikelilingi bayangan opak berawan atau nodular.
c.            Bayangan bercak milier
d.            Efusi Pleura, Gambaran radiologi yang dicrigai Tb paru inaktif
e.            Fibrotik, terutama pada segmen apical dan atau posterior lobus atas dan atau segmen superior lobus bawah
f.             Kalsifikasi, didapatkannya pengapuran pada jaringan paru. Gambaran ini dapat terjadi akibat adanya pembentukan jaringan granuloma dari penyembuhan suatu infeksi pada paru-paru
1.9        Penatalaksanaan
a.            Penatalaksanaan Farmakologis
Tuberkulosis paru terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan.
Pengobatan dapat diobati terutama dengan agen kemoterapi ( agen antituberkulosis ) selama periode 6 sampai 12 bulan.
Lima medikasi garis depan yang digunakan adalah Isoniasid ( INH ), Rifampisin ( RIF ), Streptomisin ( SM ), Etambutol ( EMB ), dan Pirazinamid ( PZA ).
Kapremiosin, kanamisin, etionamid, natrium para-aminosilat, amikasin, dan siklisin merupakan obat – obat baris kedua (Smeltzer, Suzzane C, 2001).
·              Penatalaksanaan pada pasien Tuberkulosis Multi drug resistance
Tuberkulosis paru dengan resistensi dicurigai kuat jika kultur basil tahan asam (BTA) tetap positif setelah terapi 3 bulan atau kultur kembali positif setelah terjadi konversi negatif. Directly observed therapy (DOTS) merupakan sebuah strategi baru yang dipromosikan oleh World Health Organization (WHO) untuk meningkatkan keberhasilan terapi TB dan mencegah terjadinya resistensi. DOTS adalah nama suatu strategi yang dilaksanakan di pelayanan kesehatan dasar di dunia untuk mendeteksi dan menyembuhkan tuberculosis Kunci utama keberhasilan DOTS adalah keyakinan bahwa penderita TB meminum obatnya sesuai dengan yang telah ditetapkan dan tidak lalai atau putus berobat.
b.            Penatalaksanaan Non Farmakologi
Terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan cara:
a.            Sering berjemur dibawah sinar matahari pagi (pukul 6-8 pagi).
b.            Memperbanyak istirahat (bedrest).
c.            Diet sehat, dianjurkan mengkonsumsi banyak lemak dan vitamin A untuk membentuk jaringan lemak baru dan meningkatkan sistem imun.
d.            Menjaga sanitasi/kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal.
e.            Menjaga sirkulasi udara di dalam rumah agar selalu berganti dengan udara yang baru.
f.             Berolahraga, seperti jalan santai di pagi hari.

1.10     Pathway
BAB 2. PROSES KEPERAWATAN

                    I.                 Pengkajian
a.            Identitas klien 
Meliputi nama,, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa, agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosa medik.
b.            Riwayat Kesehatan
1)           Kesehatan sekarang
a)           Keadaan pernapasan < napas pendek >
b)           Nyeri dada
c)           Batuk dan
d)           Sputum
2)           Kesehatan dahulu:
Jenis gangguan kesehatan yang baru saja dialami, cedera dan pembedahan
3)           Kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita empisema, asma, alergi dan TB
                  II.                 Status Perkembangan, misalnya:
1)           Ibu yang melahirkan bayi prematur perlu ditanyakan apakah sewaktu hamil mempunyai masalah-masalah risiko dan apakah usia kehamilan cukup
2)           Pada usia lanjut perlu ditanya apakah ada perubahan pola pernapasan, cepat lelah sewaktu naik tangga, sulit bernapas sewaktu berbaring atau apakah bila flu sembuhnya lama
1.            Pola Aktifitas/Istirahat
1)            Gejala:
a)           Kelelahan umum dan kelemahan
b)           Napas pendek karena kerja
c)           Kesulitan tidur pada malam atau demam malam hari, meggigil dan atau berkeringat, mimpi buruk
2)           Tanda:
a)           Takikardia, takipnea/dyspnea pada kerja
b)           Kelelahan otot, nyeri dan sesak (tahap lanjut)
2.            Pola Integritas Ego
1)           Gejala:
a)           Adanya/faktor stress lama
b)           Masalah keuangan, rumah
c)           Perasaan tidak berdaya/tidak ada harapan
d)           Populasi budaya/etnik
2)           Tanda:
a)           Menyangkal (khususnya tahap dini)
b)           Ansietas, ketakutan, mudah terangsang
3.            Makanan/Cairan
1)           Gejala:
a)           Kehilangan nafsu makan
b)           Tidak dapat mencerna
c)           Penurunan BB
2)           Tanda:
a)       Turgor kulit buruk, kering/bersisik
b)      Kehilangan otot/hilang lemak subkutan
4.            Nyeri/Kenyamanan
1)           Tanda:
Nyeri dada meningkat karena batuk berulang
2)           Gejala:
Perilaku distraksi, gelisah
5.            Pernapasan
1)           Gejala:
a)           Batuk produktif atau tidak produktif
b)           Napas pendek
c)           Riwayat TB/terpajan pada individu terinfeksi
2)           Tanda:
a)           Peningkatan frekuensi pernapasan (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleura)
b)           Perkusi pekak dan penurunan fremitus. Bunyi nafas menurun/tidak ada secara bilateral/unilateral. Bunyi nafas tubuler dan atau bisikan pectoral di atas lesi luas. Krekels tercatat di atas apek paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek (krekels pusttussic)
c)           Karakteristik sputum adalah hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah
d)           Deviasi trakea (penyebaran bronkogenik)
6.            Interaksi Sosial
1)           Gejala:
a)           Perasaan isolasi/penolakan karena penyakit menular
b)           Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran
III.  Diagnosa Keperawatan
Diagnosa   keperawatan   yang   mungkin   muncul   pada   pasien   TB Paru  menurut teori diagnosa keperawatan NANDA NIC NOC adalah sebagai berikiut:
a.    Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d penumpukan sputum pada jalan napas
b.   Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan Hiperventilasi.
c.    Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia
d.   Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen dan keletihan.
e.    Mual b.d  peningkatan asam dan akumulasi sekret berlebih di lambung
f.    Hipertermi berhubungan dengan Infeksi
g.   Gangguan pola tidur berhubungan dengan sesak nafas
h.   Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan kelemahan akibat Intoleransi Aktivitas.
IV. Intervensi
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
1.
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
NOC:
Respiratory status : Ventilation
Respiratory status : Airway patency
Aspiration Control
Setelah diakukan perawatan selama 3x24 pasien menunjukkan keefektifan jalan nafas dibuktikan dengan kriteria hasil :
1.              1. Mampu mengeluarkan sputum, bernafas dengan mudah.
2.              2. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas = reguler, frekuensi pernafasan = 16-24 x/menit, tidak ada suara nafas abnormal)
3.              Mampu mengidentifikasikan dan mencegah faktor yang penyebab.
4.              Saturasi O2 = 95-100%.
NIC:
1.   Ajarkan batuk efetif
2.   Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
3.   Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam
4.   Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
5.   Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
6.   Berikan bronkodilator
7.   Kolaborasikan pemberian antibiotic
8.   Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang penggunaan peralatan : O2, Suction, Inhalasi.
2.
Ketidakefektifan pola nafas
NOC:
Respiratory status : Ventilation
Respiratory status : Airway patency
Vital sign Status
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien menunjukkan keefektifan pola nafas, dibuktikan dengan kriteria hasil:
1.   Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dg mudah, tidakada pursed lips)
2.   Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang 16-24 x/menit, tidak ada suara nafas abnormal)
3.   Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah: sistolik = 90-120 mmHg, diastole = 60-80 mmHg, HR = 60-100 x/menit, RR = 16-24 x/menit).
NIC:
1.      Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
2.      Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
3.      Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
4.      Berikan bronkodilator
5.      Pertahankan jalan nafas yang paten
6.      Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
7.      Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi
8.      Monitor  vital sign
9.      Informasikan pada pasien dan keluarga tentang teknik relaksasi untuk memperbaiki pola nafas.
10.   Ajarkan bagaimana batuk efektif
11.   Monitor pola nafas     

3.
Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia
NOC:
Nutritional Status : food andFluid Intake
Nutritional Status : nutrient Intake
Weight control
Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam Ketidak seimbangan nutrisi lebih teratasi dengan kriteria hasil:
1.     Mengerti faktor yang meningkatkan berat badan
2.     Memodifikasi diet dalam waktu yang lama untuk mengontrol berat badan
3.     Peningkatan berat badan 1-2 kg atau gr
4.     Menggunakan energi untuk aktivitas sehari hari
NIC:
Weight Management
1. Diskusikan bersama pasien mengenai hubungan antara intake makanan, latihan, peningkatan BB dan penurunan BB
2. Diskusikan bersama pasien menangani kondisi medis yang dapat mempengaruhi BB
3. Diskusikan bersama pasien mengenai kebiasaan, gaya hidup dan faktor herediter yang dapat mempengaruhi BB
4. Diskusikan bersama pasien mengenai risiko yang berhubungan dengan BB berlebih dan penurunan BB
5. Dorong pasien untuk merubah kebiasaan makan
6. Perkirakan BB badan ideal pasien
Nutrition Management
1.   Jaga intake / asupan yang akurat dan catat output.
2.   Monitor status gizi.
3.   Dukung psien dan keluarga untuk membantu memberikan makanan dengan baik.
4.   Tentukan status gizi pasien dan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan gizi.
5.   Instruksikan pasien mengenai kebutuhan nutrisi.
6.   Kaji adanya alergi makanan
7.   Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien
8.   Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
9.   Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
Weight reduction Assistance
1. Fasilitasi keinginan pasien untuk meningkatkan BB
2.  Beri pujian/reward saat pasien berhasil mencapai tujuan
3.   Ajarkan pemilihan makanan

V.Evaluasi
1.  Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
S: Klien mengatakan tidak ada hambatan saat bernafas dan sesak berkurang
O: Sesak berkurang, tidak ada batuk, suara mengi berkurang, TTV dalam batas normal
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi
2.     Ketidakefektifan pola nafas
S: Klien mengatakan nafas semakin normal
O: tidak menggunakan otot bantu nafas, tidak ada sianosis, TTV dalam batas normal
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi
3.     Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia
S: Klien mengatakan sudah enak makan
O: pemasukan nutrisi bertambah, klien mampu makan dengan mandiri, BB bertambah
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi

IV. Discharge Planning
1.      Identitas
Diisi identitas pasien, tanggal MRS dan KRS, nomor RM, alamat, tanggal lahir, penanggung jawab pasien.
2.      Diagnosa utama dan diagnosa sekunder
Diisi dagnosa utama yang ditegakkan TBC  dan diagnosa sekunder pada saat MRS
3.      Data saat pasien pulang
Diisi data terakhir sebelum pasien KRS
4.      Berat badan MRS dan KRS
Diisi berat badan saat MRS dan saat terakhir sebelum KRS
5.      Tanda-tanda vital
Diisi tanda-tanda vital pasien sebelum krs
6.      Diet saat dirawat
Diet saat dirawat di rumah sakit untuk acuan konsumsi makanan dirumah
7.      Obat selama di rumah sakit dan dirumah
Diisi catatan obat yang telah diberikan dan yang akan diberikan kepada pasien saat krs
8.      Hasil laboratorium
Diisi hasil lab saat mrs dan hasil lab terakhir sebelum krs
9.      Penyuluhan kesehatan
a.    Pelajari penyebab dan penularan dari TB dengan anemia serta     pencegahan saat diluar rumah
b.    Pahami tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan secret disaluran pernafasan
c.    Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin
d.     Lakukan pernapasan diafragma : tahan napas selama 3-5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut
e.      Selalu menjaga kebersihan mulut dan pelajari cara yang baik saat batuk dan setelah batuk juga cara pengontrolan batuk
f.      Menggunkan masker
g.     Jalankan terapi obat dengan teratur dan jangan sampai putus tanpa instruksi.
h.     Berhenti merokok dan minum alcohol.
i.       Olahraga secara teratur, makan makanan yang bergizi dan istirahat cukup.
10.   Kontrol
       Diisi jadwal kontrol pasien setelah krs










DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. (2002). Pedoman pemberantasan penyalit saluran pernafasan akut. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Depkes. R.I. (2008). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Cetakan Kedua. Jakarta: Bakti Husada
Donna L. Wong…[et.al]. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong. Alih bahasa : Agus Sutarna, Neti. Juniarti, H.Y. Kuncoro. Editor edisi bahasa Indonesia : Egi Komara Yudha….[et al.]. Edisi 6. Jakarta: EGC.
Nurarif,A & Hardhi Kusuma. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawaqtan Berdasarkan Diagnose Medis Dan Nanda NIC NOC Edisi Revisi Jilid 3 .Jogjakarta: Mediaction Publishing
Price, Sylvia Anderson. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses- Proses Penyakit. Ed.6. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzzane C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth. Edisi 8. Jakarta: EGC.
Somantri,Irman. (2008). Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem pernapasan / Irman Somantri. Jakarta: Salemba Medika.
Wahid, A & Suprapto, I. (2012). Pengantar dokumentasi proses keperawatan. Jakarta: Trans Info Media.
Widagdo. (2011). Masalah dan Tatatlaksana Penyakit Infeksi pada Anak. Jakarta : Sagung Seto.

No comments:

Post a Comment